Archive for July, 2009

Tehnik Konseling


TEHNIK-TEHNIK KONSELING

DEFINISI KONSELING

Proses komunikasi antara konselor dan klien (perorangan, pasangan atau kelompok) dimana konselor memberikan informasi dan memberikan alternatif pilihan sehingga dapat membantu klien untuk mengambil keputusan.

UNSUR KONSELING/ KOMPONEN YANG BERINTERAKSI DALAM PROSES KONSELING

1.Konselor

Konselor adalah orang yang telah mempunyai keterampilan untuk memberikan bantuan dalam konseling dan digabung dengan pengetahuan yang telah di dapatkannya.

2.Klien

Klien pada umumnya adalah sebagai individu yang datang kepada konselor untuk berkonsultasi dalam upaya mengatasi bermasalah yang dihadapi ( Suardiman, 1992 ). Dalam tahap tertentu pada umumnya klien merasakan adanya ketidakseimbanganjiwa yang dapat dirasakan sebagai penderitaan, kesakitan, atau ketidakpuasan. Disamping itu biasanya mereka mengalami ketidaksesuaian antara diri yang mereka kehendaki dan diri yang mereka alami sekarang. Masalah – masalah yang dihadapi klien dapat dikelompokkan ke dalam masalah pribadi atau masalah emosional dan masalah bukan pribadi atau masalah non emosional. Masalah yang disebut masalah non emosional pada umumnya berasal individu yang kurang pengetahuan, kurang pengalaman, atau kekurangan sumber - sumber penunjang, contoh masalah non emosional antara lain : tidak dapat menentukan pilihan jurusan, kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi, tidak mendapatkan pekerjaan, dll. Walaupun masalah tersebut digolongkan kepada masalah non emosional tetapi jika masalah itu tidak secepatnya diselesaikan mungkin akan dapat menjadi sumber masalah emosional. Masalah emosional biasanya lebih mendalam daripada non emosional. Contoh masalah emosional adalah : rendah diri, merasa ditolak oleh sekitarnya, dll. Dan jika masalah emosional tersebut tidak secepatnya diselesaikan maka akan dapat menyebabkan depresi (Suardiman, 1992)

3.Proses Konseling

Walaupun seorang klien yang datang belum tentu mempunyai tujuan untuk menyelesaikan masalah, tapi memang yang sering terjadi adalah untuk tujuan tersebut. Sehingga dalam proses konseling diharapkan konselor harus faham kondisi – kondisi atau komponen – komponen bagi timbulnya pengubahan dari pribadi yang bermasalah menjadi pribadi yang ideal. William dalam Suardiman (1992) mengemukakan bahwa pribadi ideal adalah pribadi yang mampu menggunakan kemampuan berfikir rasional untuk memecahkan masalah kehidupan secara bijaksana. Dapat memahami kekuatan serta kelemahan dirinya serta mampu dan mau mengembangkan potensi positifnya secara penuh. Selain itu diharapkan kemudian mereka dapat memiliki motivasi untuk meningkatkan atau menyempurnakan diri, memiliki kontrol diri untuk menyeleksi pengaruh yang baik dan yang buruk, serta dapat menyesuaikan diri di tengah – tengah masyarakat.

TUJUAN KONSELING

1.Kemudahan perubahan perilaku

2.Perbaikan kesanggupan klien untuk memelihara dan menetapkan hubungan

3.Menambah efektifitas klien dan kesanggupan untuk berjuang

4.Menunjukkan proses pengambilan keputusan

5.Kemudahan untuk pengembangan potensi atau kemampuan klien

6.Katarsis : melampiaskan emosi

7.Mengubah perilaku kearah perilaku yang lebih bertanggung jawab

8.Mendapatkan informasi

9.Memberikan alternatif pilihan atas solusi masalah klien

10.Mendapatkan dukungan atas pilihan klien tersebut

SITUASI HUBUNGAN DALAM KONSELING

1.Konseling merupakan suatu “thingking relationship” yang lebih mementingkan peranan berfikir rasional, tetapi tidak meninggalkan sama sekali aspek emosional seseorang.

2.Konseling berlangsung dalam situasi hubungan yang bersifat pribadi, bersahabat, akrab dan empatik.

3.Pihak konselor dan klien melakukan perannya secara proporsional.

METODE KONSELING

1.Metode Direktif

Metode direktif merupakan metode yang berpusat pada konselor. Konselor yang mempergunakan metode wawancara direktif membantu memecahkanpermasalahn klien dengan cara sadar mempergunakan sumber – sumber intelektual klien. Tujuan utama dari konseling ini adalah membantu klien mengubah tingkah laku emosionil, impulsif dengan tingkah laku yang rasional. Dalam konseling direktif penting mengadakan hubungan yang bersifat kemanusiaan. Hubungan kemanusiaan ini mengandung sifat :

    1. Hubungan bersifat individual
    2. Konselor harus berusaha menempatkan diri pada klien baik secar emosional maupun psikologis.
    3. Hubungan ini harus bersifat membantu
    4. Konseling ditekankan pada masa depan klien
    5. Konseling berpusat pada kehidupan, karenanya konseling diarahkan untuk menolong klien dalam membentuk kehidupannya.
    6. Konseling ditujukan untuk membantu klien untuk berfikir secara rasional mengenai dirinya dan mengenai perkembangan hidupnya.

Langkah – langkah konseling direktif biasanya ada 6 langkah :

a.Analisa, mengumpulkan data – data yang diperlukan untuk lebih mengerti keadaan klien dari bermacam – macam sumber data.

b.Sintesa, menerangkan dan mengatur data – data sedemikian rupa sehingga dapat diketahui kekuatan – kekuatan dan kelemahan – kelemahan klien, dapat menyesuaikan maupun tidak dapat menyesuaikan.

c.Diagnosa, Kesimpulan mengenai sifat dan penyebab masalah yang ditunjukkan klien

d.Prognosa, meramalkan perkembangan masalah pada waktu yang akan datang

e.Konseling, konselor bersama dengan klien membuat langkah – langkah yang dapat membawa ke penyesuaian kembali dari klien

f.Follow up, membantu klien dengan problem – problem baru atau problem lama yang kembali dan menentukan keefektifan dari konseling yang telah dilakukan.

2.Metode Non Direktif

Metode non direktif ini dipakai pertama kali oleh Corsini dan kemudian disistimatisir dan dikembangkan oleh Carl R. Rogers, berpusat pada klien. Tanggung jawab terhadap arah konseling dipegang oleh klien tetapi konselor harus tetap memperhatikan emosi-emosi yang timbul dari klien. Pengertian emosi dan perasaan klien merupakan kunci bagi konselor untuk keberhasilan wawancara.

Penggunaan metode non direktif iniada dasar – dasar pendukungnya, yang dimaksud adalah :

a.Individu di dalam dirinya, mempunyai kapasitas, mempunyai pengertian tentang aspek – aspek dirinya dan mengerti aspek hidupnya yang menyebabkan ketidakpuasan, kecemasan, atau sakit dan juga mempunyai kapasitas dan tendensi untuk mengatur kembali dirinya dan hubungannya dengan hidup ke arah aktualisasi pribadi dan kemasakan dengan cara yang demikian rupa sehingga mengakibatkan rasa enak.

b.Kapasitas itu akan terwujud bila konselor dapat menciptakan suasana psikologis yang mempunyai sifat – sifat sbb :

·Penerimaan klien sebagai seorang pribadi yang berharga

·Secara terus – menerus berusaha untuk mengerti perasaan – perasaan klien dan menerima komunikasi klien yang seperti dirasakan klien, tanpa ada usaha untuk mendiagnosa atau merubah perasaan tersebut.

·Usaha terus – menerus untuk menunjukkan pengertian empati. Empati berarti konselor bisa mengerti, menghayati, dan merasakan sebagian yang dialami klien.

c.Dihipotesakan bahwa dalam suasana psikologis yang penuh penerimaan, pengertian dan tidak mengancam klien akan dapat mengatur kembali diri sendiri pada tingkat dasarmaupun yang lebih dalam dengan cara dapat menghadapi hidup dengan lebih terwujud, lebih masuk akal dan lebih memasyarakat maupun dengan lebih memuaskan.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa dasar dari metode non direktif ini adalah suatu pendapat bahwa ada kekuatan atau kemampuan tertentu dalam diri individu untuk tumbuh dan berkembang sehingga klien dapat menemukan kondisi – kondisi yang terdapat di dalam kenyataan. Karenanya konselor lebih pasif, individu diterima sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang bagaimanapun, bebas mengekspresikan diri dan perasaannya.

Metode non direktif ini sebenarnya lebih cocok untuk permasalahan emosional dan kiranya kurang cocok bagi pemecahan masalah yang berkaitan dengan kecakapan, bakat, ketrampilan dan sebagainya.

Salah satu yang termasuk metode non direktif ini adalah metode Client Centered.

CLIENT CENTERED

Didasari oleh pandangan bahwa individu adalah makhluk yang sadar dan rasional, sehingga dianggap mampu dan bertanggung jawab dalam mengenbangkan kepribadian sendiri. Konseling dengan client centered lebih menekankan peranan konseling sendiri dalam proses konseling. Apapun keputusan yang diambil klien adalah sepenuhnya hak dari klien dimana konselor hanya sebagai alternatif solusi, selebihnya klien sebagai pengambil keputusan.

Pendekatan client centered difokuskan pada tanggungjawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara – cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien sebagai orang yang paling mengerti tentang dirinya adalah orng yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya.

Tujuan dasar metode Client centered ini adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seseorang yang berfungsi penuh.

Fungsi dan peran terapis berakar pada cara – cara keberadaannya dan sikap – sikapnya, bukan pada penggunaan teknik – teknik yang dirancang untuk menjadikan klien “berbuat sesuatu “. Jadi terapis membangun hubungan yang membantu dimana klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasi area-area hidupnya yang sekarang diingkari sehingga menjadikan klien kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan – kemungkinan yang ada dalam dirinya.

Enam kondisi yang kondusif bagi terciptanya iklim psikologis yang layak dimana klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan adalah :

·Dua orang berada dalam hubungan psikologis

·Orang pertama yang akan kita sebut sebagai klien ada dalam keadaan tidak selaras, peka, dan cemas.

·Konselor dalam keadaan selaras

·Konselor memberikan perhatian positif tak bersyarat dari klien

·Konselor merasakan pengertian yang empatik terhadap kerangka acuan internal klien dan berusaha mengkomunikasikan perasaannya ini pada klien.

·Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak bersyarat dari terapis kepada klien setidak tidaknya dapat dicapai.

TEKNIK-TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM

CLIENT CENTERED

1.Rapport, yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

2.Teknik klarisikasi, yaitu suatu cara konselor untuk menjernihkan dan meminta klien untuk menjelaskan hal-hal yang dikemukan oleh kepada konselor.

3.Teknik refleksi, (isi dan perasaan) yaitu usaha konselor untuk memantulkan kembali hal-hal yang telah dikemukakan klien (isi pembicaraan) dan memantulkan kembali perasaan-perasaan yang ditampakkan oleh klien (perasaan dalam usaha untuk menciptakan hubungan baik antara konselor dengan klien dan menggali atau memberikan kesempatan kepada klien untuk engeksplorasi diri dan masalahnya.

4.Teknik “free expression” yaitu memberikan kebebasan kepada klien untuk berekspresi, terutama emosinya, cara kerja teknik ini seperti cara kerja kataris.

5.Teknik “selence”, yaitu kesempatan yang berharga diberikan oleh terapis kepada klien untuk mempertimbangkan dan meninjau kembali pengalaman-pengalaman dan ekspresinya yang lampau. Kesempatan ini dapat diberikan diantara waktu konseling dan dapat berlangsung cukup lama. Jika terlalu lama maka konselor perlu mengambil inisiatif untuk memulai lagi komunikasi dengan klien

6.Teknik “transference” yaitu ketergantungan klien kepada konselor. Hal ini dapat terjadi pada awal terapi, tapi bukan merupakan dasar untuk kemajuan terapi. Kemungkinan transference terjadi karena sikap konselor yang memberikan kebebasan tanpa menilai atau mengevaluasi klien (Suardiman, 1992).

TAHAPAN - TAHAPAN

DALAM KONSELING

1.Memulai percakapan

·Memperkenalkan diri

·Mempersiapkan aturan main ( peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan )

·Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

·Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

2.Menceritakan Masalah

·Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak

® Bagaimana Klien merumuskan problemnya

® apakah ini problem satu – satunya

·Perhatikan perasaan, bukan hanya pikiran

·Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien

3.Mencari Pemecahan dan alternatif

·Tanyakan dulu pada klien “ apa yang akan dilakukannya?”

·Menanyakan masa lampau dan apa yang dulu membantunya hingga berhasil

·Mengajak berandai – andai ( dengan beberapa pilihan)

·Mengajak bermain peran

4.Mengakhiri percakapan

·Rangkuman percakapan

·Rumusan langkah pertama

·Dukungan terhadap rencana perilaku

·Membuat rujukan

·Membuat janji bila bertemu lagi

5.Mempertahankan peran sebagai konselor

·Mendengar empati

·Membantu klien mendeskripsikan masalahnya

·Membantu klien untuk melihat alternatif

·Menjadi narasumber bagi klien

·Memberi kesempatan klien untuk mandiri

Kriteria konselor yang baik adalah meliputi :

  1. Kepribadian

-Ramah, riang, senang membantu, luwes dalam bergaul,

-Non-Judgemental, yaitu tidak melakukan penilaian apalagi sampai mengadili klien atau perilaku klien

-Mampu berempati, yaitu memahami diri klien baik pandangan, sikap, keinginan, perasaan, dan sebagainya

-Terbuka dan Non-diskriminatif ( tidak membeda-bedakan perlakuan kepada klien berdasarkan jenis masalah yang sedang dihadapi, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, suku, ras, agama, orientasi seksual, dan pekerjaan )

-Sabar (emosi yang stabil)

-Senang belajar hal-hal yang baru

-Bisa menyimpan rahasia klien

-Memiliki kesedian untuk meluangkan waktu

-Genuine, yaitu ketulusan yang wajar dan tidak dibuat-buat serta menghindari berlebihan dalam peran

-Tegas dan Assertive (mampu mengemukakan pendapatnya dengan baik)

-Menghindari sifat defensive

-Konsisten

-Egaliter, mampu menempatkan diri setara dengan klien

  1. Pengetahuan

-Pengetahuan yang luas khususnya yang sesuai dengan kebutuhan klien

-Pengetahuan mengenai kepribadian manusia secara umum, contohnya mengenai sifat ekstrovert dan introvert

  1. Keterampilan

-Komunikasi satu arah dan dua arah

-Komunikasi verbal dan non verbal

-Penggunaan pertanyaan terbuka dan tertutup

-Cara mendengar aktif

-Refleksi

-Membangun rapport, yaitu pendekatan kepada klien

-Fokus pada masalah

-Mengidentifikasi tema penting

-Mengarahkan tema ke satu tujuan

D. Memahami dan mematuhi aturan main dan kode etik konselor

HUBUNGAN ANTARA KONSELOR – KLIEN

A.Bentuk

Bersahabat, tetapi tetap memperhatikan segi profesionalisme sebagai konselor

B. Konfidensialitas

Konselor wajib menjaga kerahasiaan identitas dan masalah klien. Konselor diijinkan memberikan data pribadinya kepada klien dan siap menerima konsekuensinya dengan sepengetahuan koordinator.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga kerahasiaan antara lain :

ØSetiap aktivitas konseling dilakukan ditempat yang dapat menjamin kerahasiaan klien.

ØData klien disimpan dalam agenda yang hanya dapat dilihat atau dibuka oleh konselor.

ØTidak menceritakan kasus klien secara vulgar(menyebutkanidentitas dsb) dengan orang lain yang bukan konselor tanpa tujuan yang pasti.

ØTidak boleh memberi data pribadi (alamat, no telp, dll) ataupun foto pribadi kepada klien, kecuali foto ” keluarga ” konselor.

C.Selama proses konselingsedang berlangsung, antara konselor dan klien tidak boleh menjalin hubungan lain yang sifatnya pribadi selain hubungan konselor-klien.

D. Konselor tidak boleh memanfaatkan klien baik untuk kepentingan pribadi ataupun organisasi.

E.Antara konselor dan klien tidak boleh terlibat dalam utang piutang dan pinjam meminjam barang.

Di adaptasi dari MODUL KONSELING PKBI YOTH CENTRE DIY

No comment »

Tahapan-tahapan Konseling

TAHAPAN-TAHAPAN KONSELING

1.Acceptance (Penerimaan klien pada awal konseling), hal yang dikerjakan meliputi :

  1. Ungkapan salame. Pengakuan
  2. Sapaan baikf. Sentuhan
  3. Pengenalan dirig. Kontak fisik
  4. Penampilan diri

2.Klarifikasi (Proses menegaskan kembali pernyataan atau ungkapan-ungkapan yang klien sampaikan atau ceritakan), hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan ungkapan seperti; ”Pada dasarnya”, ”jelasnya”, ”artinya”.

3.Refleksi (Proses pemantulan atau penyampaian kembali ungkapan-ungkapan yang disampaikan klien, hal ini dilakukan agar konselor mampu memahamiklien sedalam-dalamnya), jenis-jenis refleksi adalah :

a.Refleksi Perasaan : menyimpulkan dan mengungkapkan kepada klien tentang muatan-muatan perasaan yang terdapat dari pesan atau pernyataan yang klien sampaikan.

b. Refleksi Isi : menyimpulkan dan menyampaikan kepada klien tentang isi maksud yang terdapat dari pesan atau pernyataan yang disampaikan oleh klien.

4.Structuring (Usaha konselor untuk membatasi proses konseling agar proses konseling berjalan efektif dan efisien), structuring meliputi :

a. Action limit : Konselor membatasi tindakan-tindakan klien, seperti dengan ungkapan ”Anda bebas mengungkapkan perasaan anda, namun saya harap anda tidak merusak benda-benda diruangan ini”.

b. Time Limit : Konselor menyampaikan kepada klien batas waktu untuk melakukan satu konseling, seperti dengan ungkapan ”Prose konseling kita ini agar efektif dan efisien akan kita lakukan selama 60 menit”.

c. Role / service Limit : Konselor menyampaikan kepada klien tentang batasan peranan konselor dan klien dalam hal pelayanan konseling.

d. Problem Limit : Konselor memberikan atau menyampiakan batasan masalah yang akan ditangani, hal ini dilakukan karena tidak semua masalah klien merupakan urusan konselor.

e. Confident Sianitas : Penyampaian kepercayaan atau kerahasiaan permasalahan yang klien sampaiakan kepada konselor.

f. Batasan Tujuan : konselor merumuskan bersama klien tentang batasan tujuan yang ingin dicapai setelah proses konseling.

5.Diam (Proses dimana proses konseling terjadi jeda atau dalam keadaan diam sejenak), makna diam bertujuan untuk :

a. Bentuk penolakan atau ekspresi ketidak setujuan yang dilakukan konselor ataskebingungan yang dirasakan klien.

b. Klien merasa sakit, salah satu cara pengekspresian rasa sakit klien saat terjadinya proses konseling, rasa sakit tersebut bisa timbul saat klien mengenang kenangan-kenangan yang tidak menyenangkan saat terjadi proses konseling.

c. Ragu-ragu, munculnya keragu-raguan didiri konselor atau klien saat proses konseling.

d. Ungkapan Keinginan, sebuah bentuk pengekspresian yang mungkin dilakukan klien saat klien menginginkan sesuatu dari konselor.

e. Ungkapan berpikir, salah satu cara pengekspresian yang dilakukan klien untuk menunjukkan klien sedang memikirkan hal-hal yang baru saja dibicarakan dalam proses konseling.

f. Ungkapan Kesadaran, salah satu bentuk pengekspresian yang dilakukan klien untuk menunjukan klien baru menyadari perasaan yang baru saja dikeluarkan atau diekspresikan klien.

6.Sharing of Experiance, teknik konselor mengerti, mendalami, dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh klien saat proses konseling, hal ini bisa disampaikan dengan cara seperti pengungkapan pengalaman-pengalaman pribadi konselor yang hampir sama dengan yang klien hadapi, atau dengan cara menyampaikan pernytaan ”Saya dapat merasakan apa yang anda hadapi saat ini, seandainya saya diposisi anda”.

7.Assurance, proses yang dilakukan oleh konselor untuk dapat meringankan perasaan klien, konselor juga menyakinkan kepada klien bahwa keputusan yang klien ambil adalah benar, proses assurance ini meliputi :

a. Approval / dukungan : hal ini diberikan jika kata-kata yang disampaikan klien sudag benar-benar positif atau berguna bagi diri klien.

b. Prediksi : diberikan jika klien memberikan informasi tentang hal-hal yang akan dilakukan klien setelah proses konseling, prediksi ini didalamnya terdapat gambaran hal-hal yang mungkin akan terjadi atau mungkin akan dihadapi klien saat mengerjakan keputusan yang didapat.

c. Postdiksi : hal ini diberikan jika proses konseling telag berjalan lebih dari sekali.

8.Bertanya, proses bertanya kepada klien yang dilakukan oleh konselor, jenis-jenis bertanya ada dua, yaitu :

a. Pertanyaan Tertutup : Pertanyaan yang membutuhkan jawaban fakta atau apa adanya, contoh jawaban apa adanya : Iya, Benar, Setuju.

b. Pertanyaan Terbuka : Pertanyaan yang membutuhkan jawaban berupa cerita atau pernytaan secara penjang lebar.

vPersyaratan Bertanya :

ØSuasana konseling harus kondusif dan mendukung, konselor harus melihat kondisi klien.

ØMateri pertanyaan mesti disiapkan dengan baik

ØAjukan pertanyaan dengan jelas dan sesuai dengan topik permasalahan.

ØSegera lakukan respon atas jawaban klien

9.Konfrontasi, Pertentangan, proses ini memiliki tujuan :

a.Diharapkan konselor dapat mengenal dan merespon pesan ganda yang disampaikan klien sehingga klien dapat menyadari

b.Agar konselor dapat membedakan pertentangan yang ada, hal ini bermaksud untuk mengetahui :

·Perbedaan apa yang dikatakan dan apa yang akan dilakukan

·Perbedaan yang telah dikatakan dengan apa yang telah dilaporkan atau diinformasikan orang lain tentang dia (klien)

·Perbedaan apa yang dikatakan dengan realitas yang ada

vHal-hal yang harus diperhatikan :

1)Memiliki pemahaman yang tepat dan bersifat empati

2)Harus mempertimbangkan klien akan menerima konfrontasi konselor

3)Perbedaan apa yang dikatakan denganrealitas yang ada

10.Penolakan, proses ini dilakukan bila klien berpikiran, berprasangka, berencana melakukan tindakan-tindakan diluar kesepakatan atau dilakukan tanpa sadar oleh klien. Jenis-jenis penolakan :

a.Penolakan Langsung : Dilakukan jika klien melakukan hal-hak yang tidak disadarinya.

b. Penolakan Tidak Langsung : Dilakukan jika klien melakukan hal-hal yang disadari atau bisa diprediksi.

11.Saran, Jenis saran ada dua, yaitu :

a. Saran Langsung : hal ini dilakukan jika klien tidak tahu hal-hal yang akan dilakukan

b. Saran Tidak Langsung : hal ini dilakukan untuk memberikan pilihan alternatif agar klien sendiri yang memilih

12.Kesimpulan, jenis-jenis kesimpulan ada dua, yaitu :

a.Kesimpulan Sementara (Sebagian) : hal ini diberikan kira-kira 10-30 menit pertama proses konseling, untuk menyimpulkan dan merespon cerita klien.

b.Kesimpulan Akhir : diberikan pada akhir proses konseling, bisa juga digunakan untuk menutup prose konseling.

13.Terminasi (Penutup)

*Tahapan ini bisa dilakukan secara berurutan atau pun dilewati beberapa tahapan, sesuai dengan situasi dan kondisi proses konseling.

vTaraf-taraf Komunikasi

1.Basa-basi

2.Membicarakan orang lain

3.Menyatakan gagasan

4.Taraf hati atau perasaan

5.Pengungkapan keterbukaan dari kejujuran

vTingkatan Komunikasi

1.Mendengarkan : Proses komunikasi terjadi hanya bertujuan untuk mendengarkan pernyataan lawan komunikasi, hal ini menjadi efektif bila adanya kontak antara konselor dan klien.

2.Mengungkapkan : Proses komunikasi tingkatan selanjutnya, dalam proses ini klien sudah mampu dan mau mengungkapkan hal-hal yang dihadapi atau perasaan yang dirasakan.

3.Memverbalisasikan : Proses komunikasi tingkatan akhir, dalam proses ini konselor atau pun klien sudah mampu menyampaikan secara utuh dan penuh tentang hal yang disampaikan oleh satu individu keindividu lainnya.

vTipe Mendengar

1.Mendengar untuk Kesenangan

2.Mendengar untuk Informasi

3.Mendengar untuk Membantu

4.mendengar yang Diharapkan

vGangguan dalam mendengar

1.Sibuk dengan diri sendiri

2.Jenuh

3.Sibuk dengan urusan eksternal

4.Faktor kawan atau lawan

vPendengar bisa dikatakan efektif, jika :

1.Adanya partisipasiaktif secara fisik atau pun mental

2.Adanya empati dan obyektifitas

3.Jangan mendengar secara ofensif (Mendengar secara sepotong kemudian menyerang )

vKetrampilan Mengawali Konseling

1.Konselor harus menghindai pertanyaan tertutup

2.Konselor harus menghindari humor yang berlebihan

3.Konselor mengikuti pokok pembicaraan klien

4.Pemberian dorongan-dorongan minimal kepada klien

5.mendengrakan dengan aktif, baik dan penuh empati

6.Mengajak klien untuk memikirkan hal-hal yang lain, yang mungkin berkaitan dengan permasalahannya.

vKetrampilan Konseling

1.Konselor harus peka, tanggap dan peduli

2.Penampilan jasmaniah harus vit dan prima

3.Gaya dan sikap harus baik dan dijaga

4.Harus memperhatikan suasana lingkungan dan status sosial

vCara Mengembangkan Empati

1.Konselor harus mempunyai sikap menerima dan memahami ungkapan klien baik secara verbal maupun non verbal

2.Konselor harus memberikan perhatian lebih kepada klien

3.Konselor harus mampu memahami Pernyataan atas ucapan klien

4.Konselor harus mampu memberikan dukungan terhadap ungkapan-ungkapan klien

vKeefektifan Konseling

1.Konselor harus memperhatikan durasi saat konseling dan kualitas gangguan yang ada saat konseling

2.Konselor harus bisa memotivasi klien dan lingkungan yang ada

3.Konselor harus memperhatikan derajat kesehatan fisik klien

4.Konselor harus memperhatikan derajat kesehatan mental klien

5.Konselor harus memahami dan menguasai ketrampilan konselor

6.Konselor harus memiliki motivasi pribadi

vTahapan Memecahkan masalah

1.Menjajaki atau mengidentifikasi masalah

2.Memahami masalah

3.membatasi masalah

4.Menjabarkan alternatif solusi

5.Menilai atau mengevaluasi

6.Memilih yang terbaik dari solusi yang ada

7.Penerapan dari solusi yang disetujui

No comment »

Komunikasi dan tehnik Komunkasi efektif

KOMUNIKASI DAN TEHNIK KOMUNIKASI EFEKTIF

PENGERTIAN KOMUNIKASI

Manusia senantiasa berkomunikasi dengan orang lain, oleh karena itu komunikasi merupakan dasar dalam membangun hubungan interpersonal. Dalam hal ini komunikasi bukan hanya sekedar pengetahuan namun lebih merupakan seni bergaul. Individu seringkali membuat kekeliruan dengan menyangka bahwa komunikasi merupakan kemampuan alami yang sudah diperolehnya sejak lahir sehingga merasa tidak perlu untuk mempelajarinya. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena untuk berkomunikasi dengan orang lain, tidak hanya diperlukan kemampuan berbicara, namun juga memerlukan keterampilan dan kepekaan mengamati keadaan orang lain. Jadi, keterampilan berkomunikasi secara efektif bersifat bawaan, namun harus dipelajari.

Komunikasi didefinisikan secara luas sebagai berbagi pengalaman. Sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagi pengalaman. Yang membuat komunikasi manusia menjadi unik adalah kemampuannya menggunakan bahasa.

Menurut Johnson (1981) setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu adalah komunikasi. Secara luas komunikasi adalah setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun non verbal yang ditanggapi oleh orang lain. Secara sempit komunikasi adalah pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Dalam pengertian hubungan maka komunikasi antar pribadi (interpersonal) adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang yang memiliki hubungan. Komunikasi yang terjadi dapat bersifat verbal berupa kata-kata atau non verbal berupa bahasa tubuh.

Komunikasi interpersonal mencerminkan terjadinya hubungan timbal balik untuk mencapai sesuatu bersama. Proses komunikasi yang terjadi merupakan pertukaran pesan agar tercapai pemahaman yang sama mengenai persepsi, gagasan, dan pengalaman masing-masing.

Komunikasi interpersonal diartikan sebagai pesan yang disampaikan sumber pesan pada seseorang atau beberapa orang penerima pesan. Komunikasi antar manusia merupakan suatu proses dimana setiap orang menerima, mengirim, menginterpretasi, dan menyimpulkan suatu pesan secara simultan. Dalam komunikasi, pesan dapat juga disampaikan melalui simbol yang mengandung makna tertentu.

Simbol-simbol ini dapat berupa simbol verbal maupun nonverbal. Pertukaran ide dan pengalaman antara dua orang hanya dimungkinkan jika keduanya mengadopsi pesan-pesan non verbal, pembicaraan, tulisan, atau simbol gambar ke dalam pengalaman tertentu dengan cara yang sama. Dengan begitu, komunikasi dapat mempengaruhi hubungan diantara kedua orang tersebut.

Pada dasarnya proses komunikasi melibatkan 4 komponen inti, yaitu:

  1. Sumber, adalah komunikator atau orang yang memberikan pesan
  2. Penerima, yaitu orang yang menerima pesan
  3. Pesan, yaitu segala simbol verbala maupun non verbal yang disampaikan dari satu orang ke orang lain
  4. Saluran, yaitu media yang mengantarai pesan agar sampai pada penerima.

MENYAMPAIKAN PESAN SECARA EFEKTIF

Komunikasi yang efektif adalah bila penerima menginterpretasikan pesan yang diterima sebagaimana dimaksud oleh pengirim. Untuk menyampaikan pesan secara efektif ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1.Kredibilitas pengirim pesan

Adalah kadar keterpercayaan atau keterandalan pernyataan-pernyataan pengirim di telinga penerima. Aspek kredibilitas ialah:

a.Sifat bisa dipercaya dari si pengirim pesan sebagai sumber informasi.

b.Intensi, yaitu maksud atau motivasi baik dari pihak pengirim.

c.Ungkapan sikap hangat dan bersahabat dari pengirim pesan.

d.Predikat atau cap positif yang dimiliki pihak pengirim.

e.Keahlian pengirim pesan menyangkut pokok pembicaraan yang disampaikan.

f.Sifat dinamis, proaktif dan empatik dari si pengirim pesan.

2.Ketrampilan mengirim pesan

Hal yang perlu diperhatikan adalah:

a.Menggunakan kata ganti orang pertama tunggal dalam pembicaraan, contoh: “Saya….”,“Aku….”.

b.Membuat pesan lengkap dan mudah dipahami.

c.Pesan non verbal harus sesuai dengan pesan verbal.

d.Redundasi: pesan sebaiknya diulang seperlunya, termasuk menggunakan lebih dari satu media untuk mengirimkan pesan yang sama.

e.Menyesuaikan cara penyampaian pesan dari pengirim dengan kerangka acuan, sudut pandang maupun kemampuan atau daya tangkap dari penerima pesan.

f.Dalam mengungkapkan perasaan, sebaiknya ditempuh salah satu dari tiga cara berikut, yaitu menyebut nama perasaan (“Maaf, saya sedang sedih”), menyebut bentuk tindakan yang disebabkan oleh perasaan yang sedang dialami (“Saya ingin menangis”), menggunakan kiasan (“Hati saya seperti disayat sembilu”).

g.Menahan diri untuk membuat penilaian atau interpretasi.

3.Umpan balik dari penerima pesan

Umpan balik adalah proses yang memungkinkan pengirim mengetahui bagaimana pesan yang dikirim ditangkap oleh si penerima. Umpan balik dari penerima pesan membuat pengirim dapat memodifikasi bentuk pesan sehingga dapat ditangkap si penerima dengan arti yang lebih tepat.

Pesan yang efektif meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Sumber secara jelas memiliki pesan yang disampaikan. Kalimat yang disampaikan biasanya menmggunakan kata saya, aku, menurut saya, dan sebagainya. Penggunaan kata-kata ini menunjukkan adanya tanggung jawab pribadi atas ide dan perasaan yang dinyatakan. Pesan yang dimulai dengan perkataan kebanyakan orang, kata teman saya, atau menurut kabar merupakan istilah yang menyulitkan untuk memahami apakah hal yang disampaikan benar-benar hasil pemikiran dan perasaan orang tersebut atau ia hanya mengulang perkataan orang lain.
  2. Membuat pesan secara lengkap dan spesifik. Termasuk pernyataan yang jelas mengenai informasi yang dibutuhkan oleh pengirim
  3. Membuat pesan secara verbal selaras dengan pesan non verbal. Dalam komunikasi tatap muka, pesan verbal maupun non verbal harus selaras. Misalnya apabila mengucapkan terimakasih, maka ekspresi non verbal yang sesuai adalah tersenyum dengan penuh kehangatan.
  4. Mengulangi pesan lebih dari satu kali dan menggunakan lebih dari satu media komunikasi (misal: menggunakan gambar, bagan, tulisan, dll)
  5. Meminta umpan balik dalam hal bagaimana pesan tersebut diterima
  6. Buatlah pesan sesuai dengan susut pandang dan cara berpikir penerima. Artinya, informasi yang sama dapat disampaikan secara berbeda oleh ahli atau oleh orang awam, anak-anak dan orang dewasa, pada atasan dan rekan kerja
  7. Mengungkapkan perasaan melalui istilah bagi perasaan tersebut, tindakan yang menggambarkan perasaan itu atau melalui kiasan. Misalnya : mengungkapkan perasaan dengan istilah (saya merasa sedih) melalui gambaran perilaku (saya seperti ingin menangis) atau melalui kiasan (hati saya terasa seperti tertusuk duri)
  8. Menguraikan tingkah laku orang lain tanpa menilai atau menghakimi. Untuk memberikan tanggapan perilaku seseorang, katakanlah mengenai apa yang ia perbuat (misal : saya terganggu dengan ocehanmu) lebih baik dikatakan dari pada membuat penilaian (misal : kamu egois, tidak mau mendengarkan perkataan orang lain)

MENYATAKAN PERASAAN

Merasakan kehangatan, dukungan, penerimaan dan persahabatan merupakan salah satu aspek yang menyenangkan dalam hidup. Perasaan baisanya menjadi lebih indah apabila dibagi dengan orang lain. Tetapi masyarakat cenderung lebih banyak mengajarkan cara mengungkapkan gagasan atau pendapat secara jelas, namun jarang mengajarkan cara mengungkapkan perasaan secara jelas. Padahal hal ini diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi.

Menyatakan dan membagi perasaan bersama orang lain merupakan hal yang juga penting dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Misalnya hal ini dapat menjadi obat untuk mengatasi stress. Menyatakan perasaan dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi dan pemahaman terhadap diri sendiri. Mengalami suatu perasaan dan mengungkapkannya pada orang lain adalah salah satu kebutuhan psikis manusia. Namun, sering kali seseorang mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya. Kita berpikir bagaimana untuk menjelaskan ide-ide kita dengan jelas dan benar, tapi kita jarang memikirkan bagaimana menjelaskan perasaan-perasaan kita dengan jelas dan benar (Johnson,1981).

Secara umum, ada 4 cara yang biasa digunakan oleh manusia untuk menyatakan perasaannya (Higgins, ), yaitu:

  1. Perilaku Pasif atau Tidak Asertif.

Perilaku pasif biasanya digunakan oleh orang yang berharap untuk dapat menyelamatkan diri mereka dari masalah tanpa ingin mengekspresikan apa keinginan, gagasan, dan perasaan mereka. Keuntungan perilaku ini adalah kita bisa menipu orang lain bahwa kita baik-baik saja. Sedangkan kerugiannya adalah kita kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri dan meningkatkan kecemasan. Perilaku ini biasanya dilakukan ketika kita menghadapi orangtua yang otoriter, atau ketika kita dimarahi orangtua karena kesalahan yang telah kita perbuat, dan kita tidak boleh membantah.

  1. Perilaku Agresif

Orang yang berperilaku agresif adalah orang yang ingin menang dalam segala hal, tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Tujuannya adalah untuk mendominasi dan mengontrol orang lain. Namun hal ini dapat menyebabkan orang lain merasa tersakiti. Perilaku agresifbiasanya disebabkan oleh kurangnya kenyamanan terhadap diri kita sendiri dan merasa tidak memiliki kekuatan dalam menghadapi kondisi tertentu. Perilaku agresif ini tidak hanya nampak dari perilaku fisik, tapi juga bisa melalui perkataan. Contohnya ketika kita melihat pacar kita digoda oleh orang lain, perilaku agresif yang mungkin akan muncul adalah mengajak orang itu untuk berkelahi atau berteriak memaki-maki.

  1. Perilaku Pasif-Agresif

Perilaku pasif muncul ketika benar-benar berada dalam situasi yang dianggap bermasalah, tapi kemudian, setelah beberapa waktu, muncul tindakan untuk menunjukkan ketidakpuasan dengan situasi tersebut, dan biasanya ditimpakan secara tidak langsung. Misalnya, ketika kita dimarahi oleh guru, di depan guru kita akan diam saja, tetapi begitu keluar dari ruang guru, kita lalu membanting pintu toilet dan menonjok tembok.

  1. Perilaku Asertif. Adalah perilaku untuk memperjuangkan apa yang menjadi haknya tanpa menyerang hak orang lain. Perilaku ini merupakan kemampuan interpersonal yang sebaiknya dimiliki agar kita dapat menyatakan pendapat kita tanpa membuat orang lain merasa tidak nyaman. Kita bisa mengekspresikan keinginan, gagasan, dan perasaan kita secara langsung dengan tetap menghargai orang lain. Untuk bisa sertif, pertama kita harus memahami apa yang mejadi hak kita, kemudian yang kedua, kita harus memiliki pengetahuan apa yang menjadi harapan kita dan juga harapan orang lain.

Jika kita ingin berperilaku asertif,ada beberapa model perilaku yang bisa diaplikasikan:

  1. The Mixed-Feelings Statement. Dalam arti lain menyatakan perasaan kita baik yang positif maupun yang negatif. Pertama kita ekspresikan perasaan positif kita baru yang negatif. Dengan hal ini, setelah kita menyatakan perasaan positif kita, orang yang kita ajak bicara mendapatkan kesempatan untuk berkomentar sebelum mengekspresikan perasaan negatif. Contohnya, “Wah.. kamu sudah menjalankan tugasmu dengan baik! Hanya saja sepertinya untuk bagian yang ini masih ada kekurangannya..”
  2. The Emphatic Assertion. Yaitu kata-kata kita menunjukkan bahwa kita dapat memahami perasaan orang lain dan juga situasi yang sedang dihadapi. Setelah itu, barulah kita memposisikan diri kita dalam pernyataan-pernyataan kita. Bisanya dengan menggunakan kata “tetapi” atau “bagaimanapun”. Contohnya, “Saya tahu kamu sedang tidak ingin berbicara, bagaimanpun juga kita harus menyelesaikan tugas kita bukan?”
  3. The Confrontive Assertion. Langkah-langkahnya diawali dengan secara objektif menjelaskan apa yang orang lain akan lakukan kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya sudah orang tersebut lakukan, lalu mengekspresikan apa keinginan kita. Contohnya, “Bukankah kita sudah melakukan perjanjian bahwa kamu tidak akan mengulang kesalahanmu, tapi mengapa kemarin kamu melakukannya lagi? Saya benar-benar merasa kecewa mengapa kamu tidak menepatinya?”
  4. The “I”-Language Assertion. Yang terdiri dari empat situasi yaitu, secara objektif menjelaskan perilaku orang lain yang mempengaruhi kita, kemudian menjelaskan bagaimana perilaku tersebut berpengaruh pada kehidupan kita, kemudian kita menjelaskan perasaan kita, lalu menjelaskan apa yang kita inginkan seperti perubahan perilaku dari orang lain atau permintaan maaf. Contohnya, “Tahukah kamu bahwa ketika kamu tidak melakukan tugas kamu, itu berpengaruh pada anggota kelompok yang lain, kami harus mengerjakan bagianmu, dan itu menyita waktu kami. Saya merasa kesal tapi saya akan sangat menghargai kalau kamu bisa menyelesaikan tugasmu di kelompok ini.”

Perasaan (feelings) merupakan reaksi fisiologis internal terhadap suatu kejadian, namun memiliki tanda-tanda yang dapat dilihat. Contohnya : kesedihan, kesedihan merupakan perasaan yang ada dalam diri, namun juga dapat diungkapkan dengan cara menangis. Perasaan selalu merupakan hal yang internal, tetapi manusia menggunakan tingkah laku untuk mengkomunikasikannya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyatakan perasaan agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Contohnya: jangan sampai marah pada saat yang tidak tepat, atau menangis pada situasi yang tampaknya bodoh untuk menangis

Bagaimana cara menyadari perasaan? Perasaan merupakan reaksi internal terhadap suatu kejadian. Untuk menyadari suatu perasaan, berarti harus menyadari proses yang terjadi dalam diri. Proses dari reaksi internal ini meliputi 5 hal, yaitu (Miller, Nunnally, and Wachman, 1975):

·Memperoleh informasi melalui panca indera (sensing)

·Memaknakan informasi yang diperoleh (interpreting)

·Merasakan sesuatu yang didasarkan pada interpreatsi yang dibuat (feeling)

·Merumuskan tujuan untuk menyatakan perasaan (intending)

·Menyatakan perasaan (expressing)

Untuk lebih jelasnya, bisa dicermati contoh berikut:

Mengapa perasaan sulit diungkapkan? Seringkali perasaan diungkapkan dengan cara yang tidak efektif sehingga dapat memperlemah suatu hubungan. Di samping itu, relasi akan mulai bermasalah ketika orang-orang yang terlibat didalamnya mulai menekan, menyangkal, atau menyembunyikan perasaannnya. Menyangkal dan menekan perasaan biasanya berhubungan dengan hal-hal berikut:

  1. Memperparah konflik dalan hubungan.
  2. Adanya kecenderungan harus bersikap rasional, logis, dan objektif untuk memecahan masalah. Anggapan ini membuat seseorang harus menekan perasaannya.
  3. Adanya persepsi yang selektif. Menyangkal perasaan dapat disebabkan karena memandang sesuatu hal tanpa memperhatikan keseluruhannya. Misalnya, apabila melihat seseorang dari kebaikannya saja, ketika orang itu membuat kita marah, rasa marah cenderung ditekan atau disangkal
  4. Adanya bias penilaian. Misalnya karena suka pada seseorang, maka biasanya perasaan terhadap orang tersebut menjadi positif. Kita mau menerima idenya, meskipun idenya buruk, dan cenderung menolak ide yang bagus jika berasal dari orang yang tidak kita sukai
  5. Adanya ungkapan perasaan tidak langsung, misalnya dengan menyindir. Hal ini menyebabkan orang kurang mampu menyatakan perasaannya secara langsung terhadap orang yang mengungkapkan perasaan secara tidak langsung tersebut
  6. Lingkungan seringkali mendorong orang untuk menekan atau menyangkal perasaan sendiri. Contohnya : “Jangan punya perasaan seperti itu, tidak baik.” Lingkungan yang patriarki membuat laki-laki cenderung menekan perasaannya. Misalnya, “Anak laki-laki tidak pantas menangis!” Dan budaya di Indonesia cenderung tidak mengijinkan beberapa perasaan diungkapkan secara langsung. Misalnya, “Sudahlah.. berhenti menangis, tidak baik, terima saja semuanya..”

MENGEKSPRESIKAN PERASAAN SECARA VERBAL

Ada dua cara untuk menyatakan perasaan, yaitu secara verbal dan non verbal. Mengekspresikan perasaan secara verbal adalah dengan kata-kata. Agar terjadi pengungkapan perasaan secara jelas maka perlu ada pernyataan pribadi (saya, …ku) dan perasaan yang dialami perlu dideskripsikan. Cara mendeskripsikan perasaan adalah:

1.Mengidentifikasikan atau menyebut nama perasaan tersebut, misal: “Saya merasa kesal”.

2.Menggunakan kiasan, misal: “Saya merasa seperti layang-layang putus”.

3.Menunjukkan bentuk tindakan yang ingin dilakukan terdorong oleh perasaan yang sedang dialami, misal: “Saya ingin membanting sesuatu”.

Perasaan akan jelas diungkapkan jika ada keselarasan antara verbal dan non verbal. Mengungkapkan perasaan secara verbal tergantung bagaimana seseorang menyadari perasaan yang ada dalam dirinya, penerimaan terhadap perasaan tersebut, serta kemampuannya untuk mengungkapkan perasaan secara jelas dan tepat. Jika tidak memiliki hal-hal seperti diatas, biasanya perasaan diungkapkan secara tidak langsung, seperti:

·Penamaan, “Kamu menjengkelkan, egois, pendendam.” Bandingkan dengan “Saya dapat marah kalau kamu terus mengagnggu saya.”

·Perintah, “Diam!” Bandingkan dengan “Saya terganggu dengan perkataan kamu tadi.”

·Pertanyaan, “Apakah kamu selalu segila ini?” Bandingkan dengan “Saya merasa khawatir dengan tingkah laku kamu yang aneh.”

·Tuduhan, “Kamu tidak mempedulikan saya lagi!” Bandingkan dengan “Saya merasa diabaikan kalau kamu tidak memperhatikan saya.”

·Sindiran, “Tumben pagi-pagi sudah datang..” Bandingkan dengan “Saya tidak suka kamu datang terlambat karena hal ini menunda pekerjaan kita bersama.”

·Memuji, “Kamu sangat menakjubkan!” Bandingkan dengan “Saya suka kamu”

·Mencela, “Kamu menyebalkan.” Bandingkan dengan “Saya tidak menyukai mkamu”

·Mengata-ngatai, “Si bodoh penyebar gosip!” Bandingkan dengan “Saya merasa malu akibat gosip yang kamu sebarkan”

Cara-cara yang tidak langsung seperti diatas seringkali dilakukan, namun sebenarnya pernyataan tersebut tidak memberikan pesan yang jelas pada penerima. Akibatnya, penerima dapat merasa ditolak atau disudutkan

MENYATAKAN PERASAAN SECARA NON VERBAL

Untuk membangun komunikasi yang efektif, salah satu hal yang penting agar pesan dapat diterima dengan jelas adalah adanya keselarasan antara bahasa verbal dan non verbal. Dalam percakapan normal antara 2 orang, komponen verbal memiliki arti sosial kurang dari 35%, sementara pesan-pesan non verbal mengandung makna lebih dari 65% (Mc.Croskey, Larson, and Knapp, 1971)

Tidak dapat dipungkiri bahwa cara berpakaian, berpenampilan fisik, postur tubuh, ketegangan, ekspresi wajah, derajat kontak mata, gerakan tangan, nada suara, dan sentuhan sama fungsinya seperti kata-kata.

Menyatakan perasaan secara non verbal adalah dengan menggunakan isyarat lain selain kata-kata, yaitu sorot mata, raut muka, sikap tubuh, volume suara dan lain-lain. Hal ini merupakan bentuk komunikasi non verbal, yaitu setiap bentuk perilaku manusia yang langsung dapat diamati oleh orang lain dan yang mengandunginformasi tertentu tentang pengirim atau pelakunya (Johnson, 1981). Isyarat non verbal, menurut Johnson (1981),memiliki ciri sebagai berikut:

1.Merupakan kebiasaan sehingga sifatnya otomatis dan jarang disadari.

2.Mengungkapkan perasaan yang sebenarnya meskipun dengan kata-kata berusaha disembunyikan.

3.Merupakan sarana utama untuk mengungkapkan emosi; untuk benar-benar memahami seseorang maka isyarat non verbalnya harus dicermati.

4.Memiliki maknayang berlainan pada lingkungan budaya yang berbeda.

5.Memiliki makna yang berbeda dari orang ke orang atau pada orang yang sama namun berlainan waktu.

Berkaitan dengan dua ciri terakhir , komunikasi non verbal bersifat idiosinkratik, artinya bersifat pribadi dan harus diartikan dalam konteksnya. Selain itu, arti yang didapat harus dipandang sebagai sementara hingga mendapatkan kepastian.

Dalam kenyataan sehari-hari, ungkapan verbal dan non verbal sulit dipisahkan karena lazim muncul bersama-sama. Karenanya, agar komunikasi yang terjadi jelas dan efektif, ungkapan verbal dan non verbal dari perasaan harus sesuai.

Penggunaan ungkapan non verbal saja dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap pesan karena penerima tidak dapat mengetahui secara jelas apa maksud dibalik tatapan mata seseorang. Masalah lain dapat timbul apabila ungkapan verbal tidak sejalan dengan non verbal

Biasanya, kesalahpahaman yang timbul dalam mengungkapkan perasaan secara non verbal disebabkan oleh:

  1. Ungkapan perasaan non verbal yang bermakna ganda (ambigu)
  2. Adanya kontradiksi antara ungkapan verbal dan non verbal.

Ungkapan perasaan non verbal dapat memiliki makna ganda karena perasaan yang sama dapat diekspresikan dengan cara yang berbeda. Contohnya, ada orang yang marah kemudian membentak-bentak, tapi ada juga yang marah kemudian diam. Selain itu, bentuk-bentuk bahasa non verbal dapat berbeda-beda pada berbagai budaya, yang terpenting adalah adanya keselarasan antara ungkapan verbal dan non verbal dan berusaha menampilkan diri apa adanya. Misalnya jika ingin mengungkapkan kehangatan, maka segala ekspresi wajah, perkataan, nada suara, dan semuanya harus mencerminkan kehangatan.

No comment »

Komunikasi Persuasif

KOMUNIKASI PERSUASIF

vKOMUNIKASI

Proses hubungan interaksi antara dua individu atau lebih baik secara verbal maupun verbal, dialog maupun monolog yang mengandung informasi

vPERSUASI

Ajakan kepada seseorang dengan cara memberikan alasan dan prospek yang baik dan meyakinkan.

vPERSUASIF

Membujuk secara halus.

vKOMUNIKASI PERSUASIF

ØMerupakan suatu proses

ØSuatu bentuk komunikasi

ØDengan proses verbal maupun non verbal

ØBisa terjadi secara sadar / tidak sadar

ØMengharapkan terjadi perubahan

vHAMBATAN KOMUNIKASI

¨Pengalaman-pengalaman si penerima

¨Kecenderungan untuk acuh jika pesan bertentangan dengan keyakinan

¨Kredibilitas si pemberi pesan

¨Isyarat verbal/non verbal berlawanan

¨Kondisi emosi pengirim dan penerima

¨Istilah teknis yang sulit di mengerti oleh penerima

¨Kerangka berpikiryang berbeda

¨Sikap negatif si pengirim/penerima

¨Keterbukaan dan kesiapan keduanya

vCARA MENGATASINYA

üGunakan komunikasi 2 arah

üPahami penerima dengan bahasa mereka

üLatih isyarat/pahami isyarat-isyarat non verbal/latih kepekaan

üManfaatkan alat bantu ex: OHP, slide proyektor, film, metaplan, etc

üLatih kemampuan menahan emosi pada :

qAudience yang lambat memahami

qAudience yang selalu menentang pendapat

qAudience yang berusaha menjatuhkan.

üMelatih untuk menjadi pendengar yang baik/pendengar aktif

Pendengar Aktif

Menjadi seorang pendengar yang baik bukan berarti kita bersikap pasif. Kita bertugas memberikan kesempatan bagi pembicara untuk mengeluarkan perasaannya, lalu memberikan umpan balik kepadanya. Pendengar aktif berusaha memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai permasalahan yang dihadapi oleh lawan bicara.

ÞMendengar secara aktif berarti:

·Tidak menggurui.

·Tidak memberikan penilaian (non-judmental).

·Bersikap menerima.

·Memahami atau berusaha memahami.

·Mendorong untuk berkomunikasi lebih lanjut.

Pendengar aktif biasanya lebih banyak memikirkan tentang respons yang “seharusnya” diberikan dan bukan apa yang sebenarnya sedang dipercakapkan. Kita perlu berkonsentrasi apa yang sedang dikatakan atau dialami lawan bicara.

Mengulangi Pernyataan (parafrase)

Mengulangi pernyataan, perasaan atau pikiran lawan bicara, menunjukkan bahwa kita sedang mendengarkan.

“Tadi Anda mengatakan bahwa sudah satu tahun Anda merasa kurang sehat dan dokter telah mengatakan bahwa Anda HIV (+). Betulkah demikian?”

“Kalau saya tidak salah tangkap, Anda mengatakan …”

“Anda merasa sedih mengenai hal itu. Benarkah?”

Refleksi Perasaan

Parafrase tidak selalu harus berdasarkan kata-kata, tetapi juga bisa berdasarkan perasaan lawan bicara. Refleksi ini memperlihatkan bahwa kita sedang mendengarkan dan membantu lawan bicara memahami emosinya sendiri.

“Kelihatannya Kamusangat marah kepada temanmu.”

Merangkum Pembicaraan/perasaan

Setelah lawan bicara mengemukakan banyak masalah, kita bisa membuat sesuatu “kesimpulan” atau rangkuman perasaan yang sedang dialaminya.

“Dari semua cerita Anda tadi, tampaknya Anda kecewa sekali dengan banyak orang …”

“Kelihatannya banyak yang ingin Anda bicarakan. Mungkin Anda mau menceritakan persoalannya satu per satu, supaya saya tahu dimana kita bisa membantu Anda. Kita mulai dari … Coba ceritakan lebih lanjut.”

Meminta Penjelasan

Tidak ada salahnya menanyakan kembali pada lawan bicara apa yang baru dikatakannya. ini jauh lebih baik daripada kita menduga atau menerka-nerka maksudnya. Jangan beranggapan bahwa kita ini terlalu pandai dan selalu bisa memahami apa yang dikatakan orang.

“Anda bisa ceritakan lagi soal itu?”

“Maaf, saya belum begitu jelas dengan maksud Anda.”

“Yang Anda ceritakan ini laki-laki atau perempuan?”

Meminta Penjelasan Kata Tertentu

Andaikata lawan bicara menggunakan istilah ilmiah, “slang” atau bahasa daerah, jangan beranggapan kita mengerti maksudnya. Ada baiknya ditanyakan kembali maksudnya.

Membuat Abstrak Menjadi Konkrit

Kadangkala lawan bicara menggunakan istilah yang abstrak atau samar, seperti diatas. Sebaiknya tanyakan kembali maksudnya.

“Kami sudah melakukan itu.”

“Maaf, yang Anda maksudkan‘itu’ apa?”

“Saya kemarin pergi dengan seseorang, lalu kami …”

“Maaf, boleh saya tahu yang Anda maksudkan ’seseorang’ itu siapa?”

Pertanyaan Terbuka

Pertanyaan yang membuat lawan bicara menjawab tentang apa, di mana dan kapan serta bagaimana.

“Mungkin Anda bisa menceritakan lebih lanjut mengapa Anda berpikiran demikian.”

“Anda mengatakan sering merasa lesu. Yang Anda maksudkan itu bagaimana? Bisa Anda ceritakan lebih lanjut?”

“Hm, apakah Anda khawatir bahwa gejala tersebut ada hubungannya dengan AIDS?”

“Anda bisa ceritakan lebih lanjut tentang tonjolan-tonjolan pada tubuh Anda?”

Memperhatikan Tekanan/intonasi

Bila lawan bicara memberikan suatu intonasi tertentu pada suatu kata, ini perlu kita gali lebih lanjut.

“Saya maraaaah sekali pada dia malam itu.”

“Marah bagaiman?”

Kata-kata yang Menunjukkan Anda Mendengar

“Hmmm”

“Ya …”

“Oh, begitu”

“Lalu?”

Pertanyaan Tertutup

Pertanyaan yang diberikan untuk mendapat informasi yang sangat spesifik.

“Apakah dokter yang Anda kunjungi cukup mengerti masalah AIDS?”

“Anda mengatakan bahwa Anda putus asa waktu itu. Apakah Anda masih merasa demikian sekarang?”

“Apakah ada informasi tertentu tentang AIDS yang ingin Anda ketahui?”

Hambatan dalam Mendengar Aktif

1.Menggurui, berkhotbah, “seharusnya”

Sudut pandang kita seolah-olah paling benar untuk situasi yang dihadapi lawan bicara.

“Anda tidak boleh percya begitu”

“Memang si prialah yang harus bertanggung jawab”

2.Menghakimi, mencela, menyalahkan

Menilai perilaku, keyakinan atau ketakutan

“Begitu saja kok takut”

“Janganlah Anda takabur”

“Kemapa itu Anda lakukan?”

3.Memberikan cap atau stereotip

“Biasanya orang gay suka melakukan itu”

“Wanita memang umumnya begitu”

“Laki-laki biasanya suka begitu”

4.Mengalihkan percakapan

“Itu tidak perlu dipikirkan, Bu”

“Yang sudah lewat, sudahlah”

5.Menganalisa dengan cara menggurui

“Anda terlalu bersikap dingin kepada isteri Anda”

6.Berargumentasi

“Itu tidak benar. Harusnya begini …”

7.Memberikan nasehat

Terutama yang tidak ada hubungannya dengan masalah.

“Anda sebaiknya pindah rumah saja”

“Seharusnya Anda putuskan saja hubungan dengan dia”

8.Menghibur, memberikan semangat umum/abstrak

“Tabahlah, pasti semua rintangan akan teratasi”

“Jangan terlau dipikirkan”

“Semua manusia memang selalu punya masalah”

9.Memuji tanpa dasar

“Anda pasti bisa mengatasi”

(padahal orang ini sedang mengeluarkan perasaan tak berdaya)

10.Menyetujui

Mengiyakan setiap perkataan, terutama mereka yang membutuhkan pengakuan.

“Yah, benar demikian”

Diadaptasi dari karya :

Mashoeroel Noor P

(Koordinator Divisi Pendampingan Sekolah Lentera Sahaja PKBI DIY)

====0000====

No comment »