Archive for October, 2008

Tafsir

KEIMANAN

(Kajian tentang Eksistensi Allah SWT)

BAB I

PENDAHULUAN

Al Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap melalui perantara malaikat jibril, didalamnya berisi tentang berbagai macam ilmu-ilmu ketauhidan, syariat, aqidah, muamalah danilmu-imu yang lain, Al Quran merupakan kitab penyempurna dari tiga kitab yang diturunkan Allah SWT kepada nabi-nabi sebelumnya yaitu Taurat, Injil dan Zabur, ciri bahasa Al Quran adalah global atau masih bersifat umum, oleh karenanya dalam memahami Al Quran dibutuhkan penafsiran secara mendalam.

Penafsiran Al Quran yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW kemudian berlanjut pada masa sahabat-sahabat nabi diteruskan oleh tabiin, didalam Al-Quran akan banyak dijumpai ayat-ayat yang menyebutkan tentang keEsaan Allah SWT, bagaimana eksistensi Allah dalam segala hal serta janji-janji Allah.

Dalam makalah ini kami akan mencoba menyampaikan beberapa ayat yang menyajikan tentang eksistensi keberadaan Allah SWT sesuai yang terdapat dalam Al-Quran serta dengan didukung literatur-literatur yang telah kami dapatkan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Ayat-Ayat tentang Eksistensi Allah SWT

Surat Al-Baqarah, ayat 255

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَالْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِوَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُمَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِإِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُحِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

255.Allah1, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia2 yang maha hidup3 maha kekal4 lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)5; dia6 tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya7 apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah8 tanpa izin-Nya9 Allah10 mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah11 melainkan apa yang dikehendaki-Nya12. Kursi[161]Allah13 meliputi langit dan bumi. dan Allah14 tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah15 Maha Tinggi16 lagi Maha besar17.

[161]Kursi dalam ayat Ini oleh sebagian Mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.

Tafsir :

Surat Al-Baqarah 255 atau lebih dikenal dengan sebutan ayat kursi adalah ayat yang paling agung di antara seluruh ayat-ayat Al-Quran. Karena dalam ayat ini disebutkan tidak kurang enam belas kali bahkan tujuh belas kali kata-kata yang merujuk pada Allah, sesuai dengan angka yang terdapat dalam terjemahan. Sifat-sifat Allah yang dikemukakan dalam ayat ini disusun sedemikian rupa sehingga menampik setiap bisikan negatif yang dapat menghasilkan keraguan tentang pemeliharaan dan perlindungan Allah.

Dalam ayat ini dilukiskan betapa kekuasaan Allah SWT dan betapa dugaan tentang keterbatasan pemeliharaan dan perlindungan-Nya yang mungkin terlintas dalam benak manusia langsung dihapus oleh-Nya kata demi kata.

Ayat kursi menanamkan kedalam hati pembacanya tentang kebesaran dan kekuasaan Allah serta pertolongan dan perlindungan-Nya, sehingga wajar muncul pernyataan bahwa barang siapa membaca ayat kursi maka ia akan memperoleh perlindungan Allah serta tidak akan diganggu oleh setan.[1]

Surat Al-An’am, ayat 102-103

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْلا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍوَكِيلٌ

102.(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.

Tafsir :

Ayat ini merupakan kesimpulan dari ayat-ayat surat Al-An’am yang sebelumnya, dalam ayat ini terdapat konsep beribadah, beribadah itu sendiri adalah sebuah konsekuensi dari kepercayaan tentang wujud Allah SWT yang disebutkan dalam sifat-sifat-NYA. Yang menyebutkan tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah karena Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dan dengan demikian maka tidak ada yang bersekutu dengan Allah dalam ketuhanan dan proses penciptaan, karena hal itu pula ibadah serta ketundukan makhluk semata-mata hanya boleh tertuju kepada Allah dzat pengatur segala hal.

Kata wakil dalam ayat ini berasal dari kata Wakila yang berarti mengandalkan pihak lain dalam beberapa urusan, hal ini merujuk kepada Allah, karena Allah merupakan wakil yang paling dapat diandalkan serta maha kuasa atas segala yang ada.

Menjadikan Allah sebagai wakil berarti menyerahkan kepada Nya segala macam persoalan, namun dengan menjadikan Allah sebagi wakil sebenarnya manusia masih terdapat tuntutan untuk berusaha dengan bersungguh-sungguh, hal ini berarti sebelum menyerahkan segala hal kepada Allah manusia diwajibkan untuk melakukan usaha sekuat tenaga terlebih dahulu.

لا تُدْرِكُهُ الأبْصَاُوَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

103.Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.

Tafsir:

Ayat ini merupakan kelanjutan dari penjelasan tentang sifat-sifat Allah yang terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya, ayat ini berfungsi juga untuk meluruskan anggapan salah dari orang-orang kafir bahwa Allah merupakan wakil dari segala-galanya, karena memang sebelum Allah memerintahkan untuk menyerahkan segalanya kepada Nya juga mewajibkan lebih dulu kepada makhluk untuk berusaha sekuat tenaga.

Menurut ayat ini manusia tidak akan dapat menyangkal hakikat dzat Allah dan sifat-sifatnya, ayat ini juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampumelihat Allah menggunakan panca indera atau mata biasa serta Allah tidak akan terjangkau dari akal pikiran manusia. Hal itu semua terjadi karena terbatasnya kemampuan manusia. Allah merupakan dzat yang paling berkuasa serta memiliki penglihatan yang mampu menjangkau segala hal yang tidak dapat dilihat oleh manusia.[2]

Surat Al-Hasyr, ayat 22-24

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاإِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُالرَّحِيمُ(22)

22.Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Tafsir :

Ayat ini berbicara tentang sifat-sifat Allah yang dibuktikan dengan penyebutan kata-kata Allah secara berulang-ulang. Kata Huwa dalam ayat ini merujuk kepada Allah, sehingga kata huwa lebih mendahului kata Ar-Rahman, Ar-Rahim yang berfungsi untuk mengkhususkan kedua sifat tersebut dalam pengertian yang maha sempurna yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاإِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُالْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّايُشْرِكُونَ (23)

23.Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Tafsir :

Ayat ini menyebutkan beberapa sifat Allah yang mampu menggugah ketaatan bagi hamba-hambanya yang selalu mengingat Allah untuk lebih mendekatkan diri kepada Nya.

Sifat-sifat Allah yang disebut dalam ayat ini adalah Al-Malik (yang maha memiliki/raja), Al-Quddus (maha suci dari segala kekurangan dan segala yang tidak pantas), As-Salam (maha damai dan sejahtera), Al-Mu’min (maha memberi keamanan), Al-Muhaimin (maha memelihara dan maha mengawasi), Al-Aziz (maha agung), Al-Jabbar (maha perkasa), Al-Mutakabbir (maha tinggi).

Menurut Thahir Ibn Asyur penyebutan sifat-sifat Allah dalam ayat ini dapat dibagi menjadi tiga bagian sesuai konteks uraian surat. Bagian pertama sesuai dan berkaitan dengan sikap kaum musyrikin, orang-orang Yahudi dan orang-orang munafikin yang bekerja sama untuk memusuhi serta memerangi nabi dan kaum muslimin hal ini terdapat dalam kata-kata La ilha illa Allah, Al-Malik, Al-Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir.

Bagian kedua yang sesuai dan berkaitan dengan kaum muslimin terdapat dalam kata-kata As-Salam, Al-Mu’min Ar-Rahman, Ar-Rahim. Serta bagian ketiga ialah yang berkaitan dengan kedua kelompok yang terdahulu yakni kaum beriman dan kaum pembangkang hal ini terdapat dalam kata-kata Al-Quddus,Al-Muhaimin, Al-Khaliq, Al-Bari’, Al-Mushawwir.

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُالْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِيالسَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(24)

24.Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir :

Ayat penutup dari surat Al-Hasyr ini juga menyebutkan tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah SWT, dalam ayat ini terdapat tiga sifat Allah, ketiga sifat tersebut ialah Al-Khaliq (sang pencipta), Al-Bari’ (maha memisahkan sesuatu dari sesuatu), Al-Mushawwir (maha memberi rupa, cara dan subtansi bagi sesuatu) serta yang memiliki segala sifat dalam asmaul husna dan yang terakhir adalah Al-Hakim (mahaperkasa lagi maha bijaksana).

Dia Pencipta seluruh makhluk-Nya, Yang mengadakan seluruh makhluk dari tiada ada kepada ada, Yang membentuk makhluk sesuai dengan tugas den sifatnya masing-masing. Dia mempunyai sifat-sifat yang indah, nama yang agung yang tidak dipunyai oleh orang yang lain, selain dari Dia. Kepada Nya bertasbih dan memuji segala yang ada di langit dan di bumi.

Diriwayatkan oleh Barra bin Azib, Ali bin Abi Talib berkata:
“Hai Barra’ jika engkau berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang Agung maka bacalah sepuluh ayat permulaan surah Al Hadid dan akhir surah Al Hasyr. Kemudian mohonkanlah kepada-Nya apa yang engkau kehendaki.”

Sebenarnya yang penting dalam berdoa itu ialah keikhlasan hati, kekhusukan dan ketundukan kepada Allah, maka dengan membaca ayat-ayat itu diharapkan timbul ikhlas, khusyuk dan tunduk itu, sehingga doa itu diterima Allah.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi.SAW,bersabda:

إن لله تسعة وتسعين اسما مائة إلا واحدا من أحصاها دخل الجنة وهووتر يحب الوتر
Artinya:
Sesungguhnya Allah Taala mempunyai 99 nama yang agung, barangsiapa yang membuat statistiknya (menghafal menghayati dan meresapkannya dalam jiwanya) niscaya akan masuk surga. Tuhan itu ganjil menyukai yang ganjil. (H.R. Bukhari Muslim)

Yang dimaksud dengan menghayati dan meresapkannya di sini ialah memahami benar-benar sifat-sifat Allah itu, merasakan keagungan, kebesaran dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk, kasih sayang-Nya, sehingga menimbulkan ketundukan, kepatuhan dan kekhusyukan pada setiap orang yang melakukan ibadat kepada-Nya.[3]

Perurutan penyebutan sifat-sifat Allah dalam ayat-ayat ini berfungsi untuk menampik kesan negatif yang mungkin dapat timbul dalam pikiran makhluk. Ketika mendengar sifat yang disebutkan sebelumnya sekaligus sebagai penyempurna dari penjelasan ayat-ayat sebelumnya.[4]

BAB III

PENUTUP

Ayat-ayat yang disebutkan dalam makalah ini tidak lain hanya untuk menunjukkan keEsaan Allah dan bagaimana eksistensi Allah disebutkan dalam Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah. Makhluk tidak akan mampu untuk melihat Allah namun dengan mengetahui sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah maka makhluk akan dapat mengerti bahwa Allah merupakan dzat yang paling agung.

Konsep keimanan dalam islam sendiri ialah konsep yang harus diyakini tanpa terlalu mengeksploitasi akal untuk memikirkannya, karena akal manusia sendiri sangat terbatas untuk dapat menjangkaunya, justru akal manusia diperintahkan oleh Allah untuk dapat membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam alam semesta, hal ini juga sesuai dengan yang terdapat dalam surat Ali Imron ayat 190

إِنَّ فِي خَلْقِالسَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِيالألْبَابِ

190.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.

DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish Shihab, 2000 Tafsir Al-Mishbah Volume ,1,414 Ciputat ,Lentera Hati,

Departemen Agama, diakses tanggal 5 September 2008,

Tafsir Al-Quran, www.tafsir al-quran depag.com,

Eramuslim, diakses tanggal 9 September 2008, Terjemahan Tafsir Ibn Katsir, www.eramuslim.com

Eramuslim, diakses tanggal 9 September 2008, Tafsir Al-Azhar, www.eramuslim.com

Qamaruddin shaleh, HAA. Dahlan dan MD. Dahlan, 1986, Asbabun Nuzul, Bandung, CV. Diponegoro


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 1, (Ciputat : Lentera Hati, 2000), hlm 511-514

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 4 (Ciputat : Lentera Hati, 2000), hlm 209-213

[3] Departemen Agama, Tafsir Al-Quran, www.tafsir al-quran depag.com, diakses tanggal 5 September 2008

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 14 (Ciputat : Lentera Hati, 2000), hlm 134-150

No comment »

Karya Ilmiah

KARYA ILMIAH

KERANGKA PENYUSUNAN DAN TEKNIK PENYUSUNANNYA

BAB I

PENDAHULUAN

Karya tulis adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.

Tujuan pembuatan karya tulis adalah melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau ceramah yang diajarkan.

Karya tulis ada yang berbentuk ilmiah dan non-ilmiah. Contoh karya tulis ilmiah yaitu skripsi, tesis, disertasi dan lain-lain. Sedangkan karya tulis non-ilmiah yaitu cerpen, puisi, dan, lain-lain.

Secara luas karya tulis yang berupa ilmiah akan dijelaskan di makalah kami sebagai berikut.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Karya Ilmiah

Ada berbagai definisi tentang karya ilmiah sebagai berikut :

1.Dalam buku yang di tulis Drs.Totok Djuroto dan Dr. Bambang Supriyadi disebutkan bahwa karya ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan hasil penelitian, yang sistematis berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang muncul sebelumnya[1].

2.Menurut Brotowidjoyo, karya ilmiah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut Metodologi penulisan yang baik dan benar.[2]

3.Menurut Hery Firman, karya ilmiah adalah laporan tertulis dan ai publikasikan dipaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang teliah dilakukan oleh seorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. [3]

Dari berbagai macam pengertian karya ilmiah di atas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud karya ilmiah dalam makalah ini adalah, suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah.

Karya ilmiah, suatu tulisan yang didalamnya membahas suatu masalah. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyedikan, pengamatan, pengumpulan data yang dapat dari suatu penelitian,baik penelitian lapangan, tes labolatorium ataupun kajian pustaka. Maka dalam memaparkan dan menganalisis datanya harus berdasarkan pemikiran ilmiah,yang dikatakan dengan pemikiran ilmiah disini adalah pemikiran yang logis dan empiris.

Karya ilmiah harus ditulis secara jujurdan akurat berdasarkan kebenaran tanpa mengingat akibatnya. Kebenaran dalam karya ilmiah adalah kebenaran yang objektif-positif, sesuai dengan data dan fakta di lapangan, dan bukan kebenaran yang normatif.berdasarkan hal semacam ini, jelas bahwa sebuah tulisan yang disebut sebagai karya ilmiah harus memiliki persyaratan-persyaratan khusus, seperti yang disebutkan Brotowidjojo yang ditulis oleh Yunita T. Winarto Dkk, dalam bukunya karya ilmiah sosial, bahwa karya ilmiah memiliki syarat- syarat sebagai berikut :[4]

1.Menyajikan fakta secara objektif

2.Mengemukakan segala uraian secara kejujuran

3.Disusun secara sistematis

4.Cenderung bersifat induktif.

5.Bertolak dari hipotesis tertentu.

6.Menghindari tindakan yang manifilatif .

7.Bersifat ekspositiris maupun argumentatif

Untuk memperjelas jawaban ilmiah terhadap permasalahan atau pertanyaan yang ada dalam suatu penelitian, penulisankarya ilmiah harus menggali khazanah pustaka, guna melengkapi teori-teori atau konsep-konsep yang relevan dengan permsalahan yang ingin dijawabnya. untuk itu penulisan karya ilmiah harus rajin dan teliti dalam hal membaca dam mencatat konsep-konsep serta teori-teori yang mendukung karya ilmiahnya tersebut. [5]

B. Jenis Karya Ilmiah.

Pada prinsipnya semua karya ilmiah yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Dalam hal ini yang membedakan hanyalah materi, susunan , tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut,. Secara garis besar, karya ilmiah di klasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian.[6]

1. Karya iImiah Pendidikan

Karya ilmiah pendidikan digunakan tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan. Karya ilmiah pendidikan terdiri dari:

a. Paper (Karya Tulis).

Paper atau lebih populer dengan sebutan karya tulis, adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.[7]

Tujuan pembuatan paper ini adalah melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau ceramah yang diajarkan oleh dosen, penulisan paper ini agak di perdalam dengan beberapa sebab antara lain, Bab I Pendahuluan , Bab II Pemaparan Data, Bab III Pembahasan atau Analisisdan Bab IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

b. Pra Skripsi

Pra Skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatka gelar sarjana muda. Karya ilmiah ini disyaratkan bagi mahasiswa pada jenja0ng akademik atau setingkat diploma 3 ( D-3) .[8]

Format tulisannya terdiri dari Bab I Pendahuluan (latar belakang pemikiran, permasalahan, tujuan penelitian atau manfaat penelitian dan metode penelitian). Bab II gambaran umum ( menceritakan keadaan di lokasi penelitian yang dikaitkan dengan permasalahan penelitian, Bab III deskripsi data ( memaparkan data yang diperoleh dari lokasi penelitian). Bab IV analisis (pembahasan data untuk menjawab masalah penelitian). Bab V penutup ( kesimpulan penelitian dan saran )

c. Skripsi

Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta- fakta empiris-objektif baik berdasarkan peneliian langsung (observasi lapangan ) maupun penelitian tidak langsung ( study kepustakaan)[9] skripsi ditulis sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana S1. Pembahasan dalam skripsi harus dilakukan mengikuti alur pemikiran ilmiah yaitu logis dan emperis.[10]

d. Thesis

Thesis adalah suatu karya ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dari pada skripsi, thesis merupakan syarat untuk mendapatkan gelar magister (S-2).

Penulisan thesis bertujuan mensinthesikan ilmu yng diperoleh dari perguruan tinggi guna mempeluas khazanah ilmu yang telah didapatkan dari bangku kuliah master, khazanah ini terutama berupa temuan-temuan baru dari hasil suatu penelitian secara mendalam tentang suatu hal yangmenjadi tema thesis tersebut.

e. Disertasi

Disertasi adalah suatu karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta akurat dengan analisis terinci.

Dalil yang dikemukakan biasanya dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan-sanggahan senat guru besar atau penguji pada sutu perguruan tinggi, desertasi berisi tentang hasil penemuan-penemuan penulis dengan menggunakan penelitian yang lebih mendalam terhadap suatu hal yang dijadikan tema dari desertasi tersebut, penemuan tersebut bersifat orisinil dari penulis sendiri, penulis desertasi berhak menyandang gelar Doktor.

2. Karya ilmiah Penelitian.

A, Makalah seminar.

1. Naskah Seminar

Naskah Seminar adalah karya ilmiah tang barisi uraian dari topik yang membahas suatu permasalahan yang akan di sampaikan dalam forum seminar. Naskah ini bisa berdasarkan hasil penelitian pemikiran murni dari penulisan dalam membahas atau memecahkan permasalahan yang dijadikan topik atau dibicarakan dalam seminar .[11]

2. Naskah Bersambung

Naskah Bersambung sebatas masih berdasarkan ciri-ciri karya ilmiah, bisa disebut karya tulis ilmiah. Bentuk tulisan bersambung ini juga mempunyai judul atau title dengan pokok bahasan (topik) yang sama, hanya penyajiannya saja yang dilakukan secara bersambung, atau bisa juga pada saat pengumpulan data penelitian dalam waktu yang berbeda.

B. Laporan hasil penelitian

Laporan adalah bagian dari bentuk karya tulis ilmiah yang cara penulisannya dilakukan secara relatif singkat. Laporan ini bisa di kelompokkan sebagai karya tulis ilmiah karena berisikan hasil dari suatu kegiatan penelitian meskipun masih dalam tahap awal.

C. Jurnal penelitian

Jurnal penelitian adalah buku yang terdiri karya ilmiah terdiri dari asal penilitian dan resensi buku. Penelitian jurnal ini harus teratur continue) dan mendapatkan nomor dari perpustakaannasional berupa ISSN(international standard serial number).[12]

C. Kerangka Penyusunan Karya ilmiah

Kerangka karya ilmiah terdiri dari:

1. Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Abstrak/Ringkasan
4. Kata Pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar Tabel
7. Daftar Gambar
8. Daftar Lampiran
9. Daftar Istilah dan atau Daftar Singkatan [kalau ada]
10. BAB I Pendahuluan (latar belakang, identifikasi masalah, maksud dantujuan, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran)
11. BAB II Tinjauan Pustaka
12. BAB III Bahan dan Metode Penelitian (bentuk penelitian, subjek penelitian, ukuran sampel, definisi operasional, variabel penelitian, prosedur penelitian, cara pemeriksaan/pengukuran, analisis data, tempat dan waktu penelitian, jadwal penelitian, alur penelitian)
13. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
14. BAB V Kesimpulan dan Saran
15. Daftar Pustaka
16. Lampiran[13]

D. Teknik Penyusunan Karya ilmiah

Kerangka Penyusunan Karya Ilmiah.

Dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap antara lain.

1. Tahap Persiapan

2. Tahap Pengumpulan data.

3. Tahap Pengorganisasian.

4. Tahap Pemeriksaan/ penyunting konsep.

5. Tahap Penyajian.[14]

1.Tahap Persiapan.

Dalam tahap persiapan dilakukan:

a. Pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkan

i.Topik yang akan di pilih harus yang ada di sekitar penulis.

ii.Topik yang di pakai harus topik yang paling menarik dari topik yangada.

iii.Pembahasan harus terpusat pada segi lingkup sempit dan terbatas.

iv.Memilki data dan fakta yang obyektif dan mencukupi.

v.Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun sedikit.

vi.Harus memiliki sumber acuan atau bahan kepustakaan yang bisa dijadikan referensi.

b.Pembatasan topik atau penentuan judul[15]

i.Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah dilakukan.

ii.Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisn karya ilmiah atau setelah selesai penulisan karya ilimiah tersebut.

iii.Penentuan judul karya ilmiah harus dapat menjawab dari pertanyaan yang mengandungunsure 4W + 1H yakni what (apa), why (kenapa), who (siapa), where (dimana) dan how (bagaimana).

c.Pembuatan kerangka karangan (outline)

i.Membimbing untuk memulai menyusun kerangka karangan.

ii.Membuat pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak menjadi tumpang tindih dalam penulisannya.

iii.Pembuatanrencana daftar isi dari karya ilmiah.

2.Tahap penulisan data

a.Pencarian keterangan dari bhn bacaan atau referensi.

b.Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.

c.Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti dan dijadikan tema dari karya ilmiah.

d.Melakukan percobaan dilabolatorium atau pengujian data di lapangan.

3.Tahap Pengorganisasian dan pengkonsepan

a.Pengelompokan bahan untuk mengorganisasikan bagian mana yang akan temasuk dalam karya ilmiah, data yang telah terkumpul diseleksi kembali dan dikelompokan sesuai jenis, sifat dan bentuk data.

b.Pengkonsepan karya ilmiah dilakuakn sesuai dengan urutan dalam kerangka karangan yang telah ditetapkan.[16]

4.Tahap pemeriksaan atau penyuntingan konsep (editing), tahap ini bertujuan untuk :

a.Melengkapi data yang dirasa masih kurang.

b.Membuang dan mengedit data yang dirasa tidak relevan serta tidak cocok dengan pokok bahasan karya ilmiah.

c.Mengedit setiap kata-kata dalam karya ilmiah untuk menghindari penyajian bahan-bahan secara berulang-ulang atau terjadi tumpang tindih antara tulisan satu dengan tulisan yang lain.

d.Mengedit setiap bahasa yang ada dalam karya ilmiah untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuaian kalimat, penyesuaian paragraph, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD.[17]

5.Tahap Penyajian

a.Teknik penyajian karya ilmiah harus dengan memperhatikan :

i.Segi kerapian dan kebersihan.

ii.Tata letak (layout) unsure-unsur dalam format karya ilmiah, misal padahalaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka, dll.

iii.Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, missal standar penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka dan penggunaan bahasa sesuai dengan EYD.

BAB III

PENUTUP

Disemua uraian penutup yang dimuat dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang harus dicermati. Pertama , sebuah karya ilmiah sebagai mana dalam makalah ini adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya tersebut merupakan sebuah gagasan lengkap, yang mungkin sangat rumit atau sederhana saja. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis diharapkan mampu untuk mengkomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gambling agar mudah dipahami. Kedua, menulis karya ilmiah berbeda dengan karya imajinatif. Persiapan yang seksama dan pemikiran yang matang dan runtut perlu diperhatikan. Ketiga, dalam menyampaikan pemikirannya, penulis tidak mungkin mengabaikan perkembangan yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terjadi dalam bidang keilmuannya sendiri. Keempat, sarana utama dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran adalah bahasa,. Bahasa sebuah sistem komunikasi memiliki aturan- aturan sendiri sekalipun sistem itu terus berkembang. Terakhir adalah masalah tanggung jawab, sekalipun kata ini tidak banyak muncul dalam buku ini, tulisan-tulisan yang ada mengajak pembaca untuk menyadari bahwa seorang penulis mempunyai berbagai tanggung jawab.

Dalam menulis kerangka tulisan ilmiah yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian dalam tulisan ilmiah, terutama dalam jurnal ilmiah antara lain, judul tulisan, nama dan alamat penulis, abstrak, pengantar, permasalahan penelitian, bahan dan cara penelitian, hasil, pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar putaka.[18]

DAFTAR PUSTAKA

Indriati,etty.2001,”Menulis Karya Ilmiah”.Gramedia Pustaka Utama,Jakarta.

Arifin Zaenal.2006,”Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah”, Grasindo, Jakarta.

Djuroto Totok, Suriadi Bambang, 2002,”Menulis Artikel Dan Karya Ilmiah”,Remaja Rosdakarya,bandung.

Sudianti VeronikaAl-Widya martayo,1997 “ Dasar-Dasar Menulis Karya Ilmiah”, GramediaWidiasarana Indonesia.

Rifai A.mien, 1995” Pegangan Gaya Penulisan,Penyuntingan, Dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia,” Gajah Mada University Press, Jakarta.

T. Winarto Yunita, Suharduanto Totok, M. choesin Ezra, 2004, “ Karya Tulis Ilmiah Sosial “ Yayasan abror Indonesia, Jakarta.

Firman Hery, “Karya Ilmiah”, blog hery firman, diakses tanggal 3 Maret 2008

anonim, “Jawaban KerangkaKarya Ilmiah”, forum tanya jawab yahoo Indonesia , diakses tanggal 3 Maret 2008


[1] Totok Djuroto dan Bambang Supriyadi, Menulis Artikel dan Karya Ilmiah (Bandung: Rosda Karya, 2005), hlm.15.

[2] E.Zaenal Arifin, Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah ( Jakarta : PT.Grasindo 2006),hlm 1-2.

[3] Hery Firman, Karya Ilmiah, blog hery firman, diakses tanggal 3 Maret 2008

[4] Yunita T. Winarto, dkk, Karya tulis Ilmiah Sosial (Jakarta : Yayasan obor Indonesia, 2004 ), hlm. 156

[5] Totok Djuroto dan Bambang Suprijadi, Ibid., hlm.15

[6] ……………, Op Cit., hlm. 24

[7] Totok Djuroto dan Bambang Supriadji, Ibid., hlm. 24

[8] Ibid, hlm 24

[9] E. Zainal Arifin, OpCit., hlm. 26

[10] Totok Djuroto dan Bambang Supriadji, OpCit., hlm. 26

[11] Veronika Sudianti dan Al-Widya martayo, Dasar-Dasar Menulis Karya Ilmiah, (Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia,1997) hlm. 49

[12]Yunita T. Winarto, dkk, Karya tulis Ilmiah Sosial (Jakarta : Yayasan obor Indonesia, 2004 ), hlm. 181

[13] anonim, Jawaban Kerangka Karya Ilmiah, forum tanya jawab yahoo Indonesia , diakses tanggal 3 Maret 2008

[14] Amin Rifai, Pegangan Gaya Penulisan,Penyuntingan, Dan Penerbitan KaryaIlmiah Indonesia, ( Jakarta : Gajah Mada University Press, 1995), hlm.79

[15] Ibid, hlm.79

[16] Ibid, hlm.80

[17] Ibid, hlm.80

[18] Etty Indriati,Menulis Karya Ilmiah, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm.15

Comments (14) »

HAM

HAK ASASI MANUSIA

(Sesuatu Hal Yang Ada Dalam Diri Setiap Manusia Yang Diberikan Oleh Tuhan)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada dasarnya ada tiga prinsip kehidupan bernegara yang saling terkait dan lahir dari sesuatu filsafat politik zaman modern, yaitu demokrasi, Negara hukum, dan perlindungan hak asasi manusia. Ketiga hal tersebut lahir dari filsafat yang mengutamakan persamaan kedudukan dan hak umat manusia. Dasar yang paling utama ialah filsafat yang mengatakan bahwa manusia itu lahir dalam keadaan bebas dan dengan kedudukan yang sama, tanpa kasta, dan membawa hak-hak dasar yang diberikan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, dalam kehidupan politik mereka melakukan perjanjian untuk membentuk organisasi yang disebut Negara, guna melindungi kepentingan-kepentingan mereka dan negara yang mereka bentuk diselenggarakan dengansistem demokrasi ( pemerintahan rakyat ). Negara demokrasi ini terikat untuk memberikan perlindungan hak-hak asasi warga negaranya dan untuk itu dipagari aturan-aturan hukum yang harus dilaksanakan dengan ketat. Keterkaitan seperti itulah yang dapat menjelaskan mengapa lahirnya paham perlindungan atas HAM diiringi dengan lahirnya konsep demokrasi modern ( perwakilan ) dan konsep Negara hukum[1].

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian HAM

HAM adalah Kebebasan seseorang untuk bertindak sesuai dengan hati nurani berkenaan dengan hal-hal yang asasi (hal yang dapat memungkinkan untuk hidup layak)[2].

Beberapa ahli memaparkan :

a)A.J.M. Milne HAM adalah hak yang dimiliki oleh umat manusia di segala masa dan segala tempat karena keutamaan keberadaannya sebagai manusia.

b)C. Derover HAM adalah hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia, hak-hak tersebut bersifat universal dan dimiliki setiap orang, kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan, hak itu mungkin dapat dilanggar tapi tidak pernah dapat dihapus kan, hak asasi merupakan hak hukum.

B. Dasar hukum HAM di Indonesia

Dasar hukum HAM di Indonesia tercangkup jelas dalam UUD 1945 diantaranya yaitu:

i.Pasal 27 ayat 1-3 tentang warga Negara dan penduduk

ii.Pasal 28A-28H tentang Hak Asasi Manusia[3]

C. Sejarah HAM

Menurut sebuah buku sejarah kelahiran HAM dimulai salah satunya dimulai di Inggris. Bangsa Inggris memiliki tradisi perlawanan terhadap para raja yang berusaha untuk berkuasa secara mutlak, pada awal diakui HAM, banyak diadakan perjanjian-perjanjian, hasil perjanjian tersebut disebut piagam, contoh beberapa perjanjian yang bisa disebut sebagai permulaan HAM diakui adalah :

a.Pada tahun 1215 kaum bangsawan memaksa Raja John untuk menerbitkan atau mengadakan perjanjian, hasil perjanjian tersebut disebut Piagam Magna Carta yang berisi tentang larangan penghukuman, penahanan, dan perampasan benda dari setiap individu atau kolektif secara sewenang-wenang dan tidak memiliki alas an yang jelas.

b.Pada tahun 1679 diadakan perjanjian Habeas Corpus Act perjanjian ini membahas tentang orang yang ditahan harus dihadapkan pada hakim dalam waktu tiga hari dan diberitahu atas tuduhan apa ia ditahan.

c.Pada tahun 1689 terbit perjanjian yang disebut Bill of Right yang berisikan Akta Deklarasi Hak dan KebebasanKawula ( orang menengah kebawah )serta tatacara suksesi Raja, akta ini merupakan konstitusi modern pertama di dunia. Dalam akta tersebut ditegaskan bahwa Raja harus tunduk pada parlemen, tidak dapat memungut pajak ataupun memiliki pasukan pada masa damai tanpa persetujuan dari parlemen, dan harus mengakui hak-hak parlemen, UU ini masih bersifat diskriminatif karena hanya mengakui hak kaum bangsawan ( itu pun hanya laki-laki )[4].

D. Macam-MacamHak Asasi Manusia (HAM)

Ada empat macam hak asasi manusia:

1.Hak asasi negatif atau Liberal adalah Hak yang di dasarkan atas kebebasan dan hak seseorang untuk mengurus dirinya sendiri,ini di sebut juga hak kebebasan. Hak ini pada dasarnya menuntut agar kemandirian setiap orang atas dirinya untuk di hormati oleh pihak lain. Hak ini di perjuangkan untuk melindungi kehidupan pribadi seseorang terhadap campur tangan Negara dan kekuatan sosial terhada kehidupan seseorang . Hak negatif atau liberal merupakan inti hak asasi manusia ,yang termasuk di dalamnya antara lain: hak atas hidup, keutuhan jasmani, kebebasan bergerak, kebebasan memilih jodoh, perlindungan atas hak milik, hak mengurus rumah tangga sendiri, hak kebebasan beragama, hak kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan untuk berfikir dll.

2.Hak asasi aktif dan Demokrasi adalah Hak yang di dasarkan pada keyakinan bahwa semua orang sama derajatnya, hak ini didasarkan pada pandangan tentang kedaulatan rakyat dalam arti ini pemerintah harus ada di bawah rakyat, inti dari hak asasi ini adalah bahwa setiap orang memiliki hak untuk turut serta menentukan arah perkembangan masyarakat tempat ia hidup. Hak memiliki wakil rakyat dalam pemerintahan, mengontrol pemerintahan, menyatakan pendapat ,kebebasan pers ,membentuk perkumpulan politik.

3.Hak asasi positif adalah kebalikan dari hak negatif ,hak positif justru menuntut prestasi-prestasi tertentu dari negara, hak positif di dasarkan pada pandangan tentang tugas dan kewajiban negara, pada hakekatnya negara tidak bertugas untuk mengurusi dirinya sendiri .negara bertugas melayani masyarakat. Hak ini antara lain: hak perlindungan hukum, keamanan, memperoleh perlakuan yang sama di depan hukum, hak atas kewarga negaraan dll .

4.Hak asasi sosial adalah merupakan perluasan dari hak asasi positif, hak ini di dasarkan pada pandangan bahwa setiap orang berhak atas bagian yang adil dari kekayaan material dan kultural bangsanya .selain itu setiap orang berhak atas bagian yang wajar atas kegiatan ekonomi masyarakat[5].

E. Upaya-Upaya Penegakan HAM

A. Sejarah singkat penegakan HAM di Indonesia .

Abad ke 19 Raden Ajeng Kartini adalah orang yang pertama secara jelas mengungkapkan pemikiran mengenai HAM dalam suratnya, 40 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan (multi lubis,1993:52-54) di lanjutkan sidang BPUPKI Muhammad Hatta, Muh Yamin dan Sukiman .

B. Upaya –upaya penegakan HAM :

Penegakan HAM adalah berbagai tindakan yang di lakukan untuk membuat HAM semakin di akui oleh pemerintah dan masyarakat

Penegakan HAM lakukan dengan dua pendekatan sekaligus yaitu:

1. Pencegahan :

a.menciptakan undang-undang HAM yang semakin lengkap, termasuk di dalamnya ratifikasi berbagai instrumen HAM internasional

b.menciptakan lembaga-lembaga pemantau dan pengawas HAM. Lembaga ini biasanya bersifat independen (Komnas HAM) maupun lembaga –lembaga atas inisiatif masyarakat atau LSM.

c.menciptakan perundang-undagan dan pembentukan peradilan HAM .

d.pelaksanaan pendidikan di sekolah ,keluarga dan masyarakat .dalam hal ini media massa cetak maupun elektronik serta LSM.

2.Penindakan :

a.pelayanan konsultasi, pendamping, dan advokasi bagi masyarakat yang menghadapi kasus HAM .

b.penerimaan peraduan dari korban pelanggaran HAM.

c.investigasi yaitu mencari data informasi dan fakta yang berkaitan dengan peristiwa yang patut di duga merupakan pelanggaran HAM.

d.menyelesaikan perkara melalui perdamaian, negoisasi, mediasi, konsiliasi dan penilaian ahli[6].

BAB III

Penutup

Dari cangkupan pembahasan HAM yang sudah disampaikan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian Hak Asasi Manusia ( HAM Kebebasan seseorang untuk bertindak sesuai dengan hati nurani berkenaan dengan hal-hal yang asasi (hal yang dapat memungkinkan untuk hidup layak), tetapi tiap ahli bisa memilki definisi tentang HAM sendiri, hal ini yang bisa membuat definisi dari HAM bermacam-macam, HAM dalam UUD 1945 sudah tercantum jelas, diakui dan dilindungi oleh Negara sehingga tiap pelanggaran HAM dapat ditindak jelas oleh badan hukum yang jelas

Sejarah HAM di Indonesia sudah berlangsung sangat lama, bahkan sebelum masa kemerdekaan, hal ini menyatakan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sudah sangat sadar akan esensi HAM dan mau untuk memperjuangkannya, dalam proses aplikasinya HAM mempunyai banyak persepsi diantaranya HAM negatif, HAM positif, hal ini membuktikan bahwa manusia sudah mampu untuk mengidentifikasi sendiri tentang HAM.

Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemaklah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.

DAFTAR PUSTAKA

Mahfud, Muhammad, 1999, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Yogyakarta, Gama Media

Tim ICE Jakarta, 2000, Demokrasi, hak asasi manusia dan masyarakat madani. Jakarta, Prenada Media

Suteng Bambang dkk, 2007, pendidikan Kewarganegaraan SMA kelas X. Jakarta, Erlangga


[1]Muhammad Mahfud, Pergulatan politik dan hukum di Indonesia, (Yogyakarta: Gama Media, 1999), hlm186.

[2]Bambang Suteng, dkk, Pendidikan kewarganegaraan SMA kelas X, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm173.

[3]Anonim, UUD 45 setelah Amandemen, (Jakarta: Pustaka Agung Harapan, 2004), hlm20-23

[4]Tim ICE Jakarta, Demokrasi, hak asasi manusia dan masyarakat madan, (Jakarta: Prenada Media, 2000), hlm213-214.

[5]Ibid, hlm:74-75

[6]Ibid, hlm85-87

Comments (1) »

Dinasti Abbasyiyyah

C. Periodisasi Dinasti Abbasiyah

Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi lima periode, yaitu:

  1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)

Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.

  1. Periode Kedua(232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)

Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.

  1. Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)

Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.

Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.

  1. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M)

Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

Tughril meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan digantikan kemenakannya Alp Arselan yang kemudian digantikan puteranya Maliksyah yang merupakan penguasa terbesar dari dinasti Saljuk. Sesudah itu bani Saljuk mengalami kemunduran sebelum kekuasan mereka di Baghdad pudar sama sekali pada tahun 552 H/ 1157 M. Dalam bidang keagamaan, masa ini ditandai dengan kemenangan kaum Sunni, terutama dengan kebijakan Nidham al-Muluk mendirikan sekolah-sekolah yang disebut dengan namanya Madaris Nidhamiyyah. Hal lain yang perlu dicatat dari masa ini dan masa sebelumnya adalah munculnya berbagai dinasti di dunia Islam yang menggambarkan mulai hilangnya persatuan dunia Islam di bidang politik. Seperti dinasti Fatimiyah lahir di Mesir (969) dan bertahan sampai tahun 1171. Dari segi budaya dan pemikiran keagamaan, terdapat berbagai wilayah dengan pusatnya sendiri yang masing-masing mempunyai peran sendiri dalam mengekspresikan Islam, sesuai dengan kondisi masing-masing. Misal, Andalus dan Afrika Utara mengembangkan seni yang mencapai puncaknya pada al-Hambra dan pemikiran filsafat denngan tokoh Ibn Tufail dan Ibn Rusyd.

  1. Periode Kelima (590 H/ 1194 M – 656 H/ 1258 M)

Periode ini adalah masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad. Sesudah Saljuk, para khalifah tidak lagi dikuasai oleh kaum tertentu. Tetapi, negara sudah terbagi-bagi dalam berbagai kerajaan kecil yang merdeka. Khalifah al-Nashir (1180-1255) yang berusaha untuk mengangkat kewibawaan kekhalifahan Abbasiyah. Untuk itu ia mencari dukungan atas kedudukannya dengan bekerja sama dengan suatu gerakan dari orang-orang yang memuja Ali.Dari kalangan pengrajin dan pedagang meyakini Ali sebagai pelindung korporasi. Anggota dari gerakan ini bertemu secara teratur, dan tidak jarang melakukan latihan-latihan spiritual dibawah pimpinan seorang pir. Al-Nashir menempatkan dirinya sebagai pelindung dari gerakan ini. Sementara itu, kekuatan Mongol Tartar mulai merayap dari arah timur dan pada tahun 656 H/1258 H, Hulagu dengan pasukannya memasuki Baghdad dan membunuh khalifah al-Musta’shim dan membunuh penduduk kota ini. Mereka menjarah harta, membakar kitab-kitab dan menghancurkan banyak bangunan. Dengan demikian berakhirlah kekhalifahan Bani Abbas di Baghdad.

D. Khalifah Yang Menonjol Di Dinasti Abbasiyah

  1. Abu Ja’far Al-Mansur (136-158 H/ 754-755 M )

Abu Ja’far Al-Mansur termasuk salah seorang pendiri dinasti Abbasiyah yang pertama kali membuat dan mengatur politik pemerintahan dinasti itu. jalur-jalur administrasi mulai dari pusat sampai ke daerah ditata dengan rapi. Pada waktu itu terjadi kerja sama yang baik antara Kepala Qadhi, Kepala Polisi Rahasia, Kepala Jawatan Pajak, dan Kepala Jawatan Pos. dengan demikian, pemerintahan pada masanya menjadi tertib. Abu Ja’far Al-Mansur sangat besar jasanya dalam mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam. Ia adalah seorang yang cinta ilmu pengetahuan. Dengan kekuasaan dan hartanya dia memberi dorongan dan kesempatan yang luas bagi para cendekiawan untuk mengembangkan riset ilmu pengetahuan.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur untuk memajukan dinasti Abbasiyah antara lain, yaitu:

a)Penertiban Pemerintahan

Dalam usaha memperkuat kedudukan dan kekuasaan dinasti Abbasiyah, Abu Ja’far Al-Mansur mulai mengadakan penertiban dalam bidang administrasi dan mengadakan kerjasama diantara para pejabat pemerintahan dengan sistem kerjasama lintas sektoral, seperti kerjasama antara Qadhi dengan Kepala Polisi Rahasia, dengan Kepala Pajak dan dengan Kepala Jawatan Pos.

b)Pembinaan Keamanan dan Stabilitas Dalam Negeri

Untuk melaksanakan pembinaan dan stabilitas dalam negeri, ja’far Al-mansur mengadakan pengamanan terhadap beberapa kelompok yang dianggapnya berbahaya dan mengganggu stabilitas dalam negeri. Diantara kelompok yang dianggap berbahaya adalah kelompok Abdullah bin Ali, kelompok Abu Muslim Al-Khurasani dan kaum Alawiyin.

c)Pembinaan Politik Luar Negeri

Politik luar negeri khalifah Ja’far Al-mnasur yaitu dengan mengadakan serangan terhadap Byzantium, penaklukan ke Afrika Utara dan mengadakan perjanjian kerjasama dengan Raja Peppin dari bangsa Frank. Kerjasama ini dilakukan untuk menghalangi melebarnya kekuasaan Bani Umayah di Andalusia yang dipimpin oleh Abdurrahman Al-Dakhil.

  1. Harun Al-Rasyid (170-193 H/ 786-809 M)

Harun Al-Rasyid adalah khalifah ke-6 dari dinasti Abbasiyah. Dia dikenal sebagai penguasa terbesar didunia pada waktu itu. Ia sering turun ke jalan-jalan di kota Baghdad pada malam hari untuk mengadakan inspeksi melihat keadaan yang sebenarnya untuk membantu kaum yang lemah dan memperbaiki keadaan. Masa pemerintahannya adalah masa keemasan dinasti Abbasiyah. Sebab itu, Bagdad menjadi mercusuar kota impian seribu satu malam yang tidak ada tandingannya di dunia pada abad pertengahan. Disamping itu, keadilan dan kesejahteraan sangat diperhatikan dan selalu diusahakan secara merata. Wilayah kekuasaannya terbentang luas dari Afrika Utara sampai Hindu Kush, India. Kekuatan militernya sangat dikagumi oleh lawan. Hal ini terbukti waktu mengadakan serangan balasan ke Byzantium yang telah mengingkari perjanjianyang telah disepakati sebanyak 6 kali. Dalam serangan ini, seluruh Byzantium termasuk ibu kotanya Konstantinopel dapat ditaklukkan.

Keagungan sejati khalifah Harun Al-Rasyid terletak pada sikap politik damainya yang selalu terlihat. Hal itu sangat besar pengaruhnya bagi kesejahteraan rakyatnya. Ia mengumpulkan kaum cendekiawan dan para bijak yang mengatur pemerintahan dinasti Abbasiyah. Perdana Menterinya Yahya Barmaki dengan kasih sayang disebutnya “ayah”, serta keempat anaknya terutama Ja’far dan Fazal, merupakan tokoh penting dalam pemerintahan Harun Al-Rasyid sehingga masa pemerintahannya dikenal dalam sejarah dunia sebagai masa kejayaan dunia Islam.

Keadaan dinasti Abbasiyah yang aman membuat para pedagang, saudagar, kaum terpelajar dan masyarakat umum dapat melakukan perjalanan di seluruh wilayahnya yang sangat luas itu, membuktikan juga betapa baik dan betapa kuatnya pemerintahan Harun Al-Rasyid. Masjid, Perguruan Tinggi, Sekolah, Rumah Sakit, dan sebagainya didirikan. Semua itu bertujuan untuk kesejahteraan masyarakatnya.

  1. Abdullah Al-makmun (198-218 H/ 809-833 M)

Abdullah Al-Makmun menjadi khalifah yang ke-8 dari dinasti Abbasiyah. Ia terkenal sebagai seorang administrator yang termasyhur karena kebijaksanaan dan kesabarannya. Ia mencurahkan perhatiaannya yang besar pada tugas reorganisasi pemerintahan yang waktu itumengalami kemunduran selama pemerintahan Al-Amin. Ia melakukan peninjauan rahasia di jalan-jalan kota yang didampingi oleh Ahmad bin Khalid (pengurus rumah tangga istana). Ia mengangkat para administrator yang ahli untuk menjadi gubernur dibeberapa propinsi dan terus mengawasi langkah mereka.

Al-Makmun membentuk sebuah Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua kalangan masyarakat. Tidak ada perbedaan kelas atau agama, pelayanan masyarakatnya terbuka untuk siapa saja. Para wakil rakyat mendapat kebebasan penuh dalam mengemukakan pendapat dan bebas berdiskusi di depan khalifah. Al-Makmun mempunyai banyak dinas rahasia baik di dalam negeri maupun di luar negeri terutama di wilayah jajahannya Byzantium. Selain itu, Al-Makmun terkenal sebagai khalifah yang sangat bijaksana dan pemaaf. Ia sering kali memberi ampunan kepada para pemberontak, seperti yang dilakukannya terhadap para pemberontak Yaman. Sikapnya terhadap masyarakat yang bukan agama Islam sangat toleran sekali. Mereka mendapat hak dan kewajiban yang sama dalam pembelaan negara. Mereka diberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. Ia juga membentuk sebuah Dewan Negara yang anggotanya terdiri dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Yahudi dan Zoroaster.

Wilayah Al-Makmun sangat luas sekali, membentang dari pantai Atlantik di Barathingga ke Tembok Besar Cina di Timur. Usaha lain yang dilakukannya semasa pemerintahannya adalah mendirikan Bait Al-Himkah. Untuk menghindari terjadinya perselisihan antara sesama umat Islam (khilafiyah), ia mengadakan Majlis Munadzarah untuk mendiskusikan persoalan agama yang dianggap sukar dipecahkan. Hasil diskusi itu kemudian disebarkan kepada masyarakat luas untuk diketahui dan kemudian mengamalkannya sesuai dengan hukum Islam.

E. Kemajuan Pada Masa Dinasti Abbasiyah

  1. Kemajuan Dalam Bidang Iptek

Masa pemerintahan dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada zaman ini umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan baik aqli rasional ataupun yang naqli mengalami kemajuan dengan pesatnya. Pada masa dinasti ini, proses pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara penerjemahan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa Yunani, Romawi, dan Persia serta sumber dari berbagai naskah yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika seperti Mesopotamia dan Mesir.

Pada masa ini, pusat-pusat kajian ilmiah bertempat di masjid-masjid, misalnya Masjid Basrah. Di masjid ini terdapat kelompok studi yang disebut Halaqat Al Jadl, Halaqat Al Fiqh, Halaqat Al-tafsir wal Hadits, Halaqat Al-Riyadiyat, Halaqat lil Syi’ri wal Adab, dll. Banyak orang dari berbagai suku bangsa yang datang ke pertemuan itu. Dengan demikian berkembanglah kebudayaan dan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Pada permulaan dinasti Abbasiyah, belum terdapat pusat-pusat pendidikan formal, seperti sekolah-sekolah, yang ada hanya baru lembaga-lembaga non-formal yang disebut “Ma’ahid”. Baru pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid didirikan lembaga pendidikan formal seperti “Darul Hikmah” yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Al-Makmun. Dari lembaga inilah banyak melahirkan para sarjana dan para ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan dinasti Abbasiyah.

Diantara ilmu pengetahuan yang berkembang pesat yaitu:

a)Ilmu Tafsir

Perkembangan ilmu tafsir pada masa dinasti Abbasiyah mengalami kemajuan dengan pesat. Tafsir pada zaman ini terdiri dari Tafsir Bil Ma’tsur, yaitu Al-Qur’an yang ditafsirkan dengan hadits-hadits nabi dan Tafsir Bil Ra’yi, yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan menggunakan akal pikiran.

Diantara para ahli Tafsir bil Ma’tsur adalah:

·Ibnu Jarir Al-Thabary

·Ibnu ‘Athiyah Al-Andalusy

·As Sudai yang mendasarkan tafsirnya kepada Ibnu Abba dan Ibnu Mas’ud

·Muqatil bin Sulaiman yang tafsirnnya terpengaruh oleh kitab Taurat

·Muhammad bin Ishak, dalam tafsirnya banyak mengutip cerita israiliyat

Adapun para ahli Tafsir bil Ra’yi adalah:

§Abu Bakar Asam (Mu’tazilah)

§Abu Muslim Muhammad bin Bahr Isfahany (Mu’tazilah)

§Ibnu Jaru Al-Asady (Mu’tazilah)

§Abu Yunus Abdussalam (Mu’tazilah)

b)Ilmu Hadits

Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah muncullah ahli-ahli hadits yang ternama, antara lain:

·Imam Bukhari, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Abil Hasan Al_Bukhari. Lahir di Bukhara tahun 194 H dan wafat tahun 256 di Baghdad, karyanya antara lain: Shahih Bukhary (Al-Jamius Shahih).

·Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qushairy Al-Naishabury, wafat 261 H di Naishabury. Karyanya yang terkenal adalah Shahih Muslim (Al-Jamius Shahih).

·Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah.

·Abu Daud, karyanya Sunan Abu Daud.

·Al-Nasai, karyanya Sunan AL-Nasai, dll.

c)Ilmu Kalam

Ilmu kalam lahir karena dua sebab, yaitu:

ØKarena musuh Islam ingin melumpuhkan Islam dengan mempergunakan filsafat pula.

ØHampir semua masalah, termasu masalah agama telah berkisar pada pola rasa kepada pola akal dan ilmu.

Diantara pelopor dan ahli ilmu kalam adalaH: Washil bin Atha, Abu Huzail Al-Allaf, Ad-Dhaham, Abul Hasan Al-Asy’ary dan Imam Ghazali.

d)Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah ilmu syariat. Inti ajarannya adalah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan atau menjauhkan diri dari kesenangan dan perhiasan dunia dan bersembunyai diri beribadah.

e)Ilmu Bahasa

Ilmu bahasa adalah Nahwu, Sharaf, Bayan, Badi’, Arudl, dll. Ilmu bahasa pada masa dinasti Abbasiyah berkembang dengan pesat karena bahasa Arab yang semakin berkembang memerlukan ilmu bahasa yang menyeluruh. Kota Basrah dan Kufah merupakan pusat pertumbuhan dan kegiatan ilmu bahasa (Ilmu Lughah).

f)Ilmu Fiqih

Para fuqaha yang terkenal, yaitu:

·Imam Abu Hanifah, karyanya Fiqhu Akbar, AL-Alim wal Mutaan, dll.

·Imam Malik, karyanya yang terkenal adalah kitab Al-Muwatha.

·Imam Syafi’I, karyanya yang terkenal adalah Al Um, Ushul Fiqh.

·Imam Ahmad bin Hanbal, karyanya yang terkenal adalah Musnad, yang memuat 2800 sampai 2900 hadits Nabi.

Disamping ilmu-ilmu Naqli yang mengalami kemajuan pesat, ikut berkembang pula ilmu-ilmu Aqli (rasional), seperti: Ilmu Kedokteran. Ilmu kedokteran mulai berkembang dengan pesat pada masa akhir dinasti Abbasiyah I, sedangkan puncaknya pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah II, III, IV. Dinasti Abbasiyah telah melahirkan banyak dokter kenamaan. Banyak dokter asing yang dipakai untuk praktek dan guru, begitu juga rumah sakit besar dan sekolah tinggi kedokteran banyak sekali didirikan. Diantara para dokter yang terkenal, yaitu:

·Abu Zakaria Yuhana bin Masiwaih, seorang ahli farmasi di rumah sakit Yundishapur.

·Sabur bin Sahal, direktur rumah sakit Yundishapur.

·Abu Zakaria Al-Razy, kepala para dokter rumah sakit Baghdad.

·Ibnu Sina, karyanya yang terkenal adalah al Qanun fi al Thibb.

  1. Kemajuan Dalam Bidang Sosial Ekonomi

a)Perkembangan Sosial

Kehidupan sosial pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah merupakan kelanjutan dari zaman sebelumnya yaitu zaman pemerintahan dinasti Umayyah. Menurut Geroge Zaidan, bahwa masyarakat yang ada pada masa dinasti Abbasiyah terbagi kedalam dua kelas, yaitu:

ØKelas Khusus, terdiri dari :

Khalifah, ahli famili khalifah yaitu Bani Hasyim; Para pembesar negara (seperti: menteri, gubernur, panglima, dan para pejabat); Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim (seperti: kaum Quraisy pada umumnya); dan Para petugas khusus, anggota tentara, pembantu-pembantu istana.

Økelas Umum, terdiri dari :

Para seniman; Para ulama, fuqaha dan pujangga; Para saudagar dan pengusaha; para tukang (industrialis) dan petani.

b)Perkembangan Ekonomi

Pada masa awal pemerintahan dinasti Abbasiyah, perbendaharaan negara mengalami kemajuan yang sangat hebat. Kas negara selalu penuh, uang masuk lebih banyak dari pada uang yang keluar. Khalifah Al-Manshur benar-benar telah meletakkan dasar-dasar ekonomi dan keuangan negara. Keutamaan Al-Manshur dalam menguatkan dasar pemerintahannya dengan ketajaman pikiran, keadilan dan ketegasan. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, sistem perekonomian negara dibangun dengan menggunakan sistem-sistem seperti:

ØEkonomi Pertanian

Pada masa dinasti Abbasiyah, pemerintahannya sangat menghargai kaum petani dan meringankan beban pajak hasil bumi mereka dan bahkan terdapat beberapa tempat yang dihapuskan dari beban pajak. Usaha lain yang dilakukan untuk menunjukkan kemajuan ekonomi pertaniannya adalah dengan membuat bendungan dan membangun irigasi, menggali kanal dan pembuatan lahan pertanian baru. Dengan adanya irigasi itu, maka para petani akan lebih mudah untuk menyirami lahan pertaniannya sehingga menjadi subur.

ØPerindustrian

Para khalifah Abbasiyah tidak saja mementingkan sektor pertanian untuk memajukan perekonomian negara, tetapi juga dengan perhatian yang cukup untuk mengembangkan bidang perindustrian. Kepada seluruh rakyat dianjurkan untuk membangun berbagai industri. Para khalifah juga mempergunakan berbagai sumber tambang untuk diolah menjadi barang jadi seperti emas, perak, perunggu, besi, baja, dll.

Terdapat kota industri yang strategis pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, misalnya: Basrah sebagai kota penghasil sabun dan gelas; Kufah sebagai kota penghasil sutra; Khuzastam sebagai kota penghasil tekstil sutra bersulam; Damaskus sebagai kota penghasil kemeja tekstil aneka ragam sutra; Syam sebagai kota penghasil keramik, gelas dan gelas berwarna; Andalusia sebagai kota industri perkapalan, industri persenjataan dan industri kulit; dan kota-kota lainnya yang berada di wilayah kekuasaan pemerintahan dinasti Abbasiyah.

ØPerdagangan

Disamping perhatian yang demikian besar untuk mengembangkan bidang industri dan pertanian, pemerintaha Abbasiyah juga memberikan perhatian yang sangat besar bagi perkembangan ekonomi perdagangan. Untuk kearah itu dengan cara membangun sumur-sumur ditempat-tempat istirahat para kafilah dagang, membangun armada-armada dagang untuk melindungi para pedagang dari perampokan bajak laut dan membangun tempat-tempat perdagangan baru. Hubungan perdagangan antar pulau, antar negara dan antar bangsa sangat erat sekali. Ini dilakukan untuk kemajuan perekonomian bangsa itu sendiri. Para pedagang banyak melakukan perjalanan dagang keberbagai negara termasuk ke Cina, India bahkan ke Indonesia.

  1. Kemajuan Dalam Bidang Politik Dan Pemerintahan

Untuk mempertahankan diri dari berbagai kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan, maka para Khalifah dinasti Abbasiyah mengambil beberapa kebijaksanaan politik dalam negerinya, yaitu:

a)Kebijaksanaan Politik Terhadap Bani Umayah

Untuk menjaga supaya tidak terjadi gerakan pemberontakan dari keluarga Bani Umayah yang bermaksud mengambil kembali kekuasaan dari pemerintahan dinasti Abbasiyah, maka para khalifah Abbasiyah mengambil suatu tindakan terhadap para pendukung dan keluarga Bani Umayah yang masih tersisa. Kebijaksanaan politik itu menyebabkan banyak diantara para penduduk dan keturunan Bani Umayah melarikan diri ke wilayah Andalusia, Afrika, dll. Ditempat pelarian itu mereka mendirikan pemerintahan baru sebagai tandingan kekuasaan pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad.

b)Kebijaksanaan Politik Terhadap Orang-orang Persia

Dalam kerangka mempertahankan kekuatan politik pemerintahan dinasti Abbasiyah, disamping melakukan kebijaksanaan politik terhadap kelompok dan pendukung Bani Umayah, kelompok “Mawaly” (terutama orang-orang Persia) diberikan kesempatan dalam berbagai bidang pemerintahan. Kedudukan kaum Mawaly ini mendapatkan posisi yang sangat istimewa dalam pemerintahan bani Abbasiyah.

c)Kebijaksanaan Politik Pemerintahan

Perkembangan politik pemerintahan pada masa dinasti Abbasiyah adalah kemajuan yang dicapai melalui pembentukan beberapa lembaga pemerintahan yang baru, antara lain:

ØPengangkatan Wazir (menteri) sebagai pembantu utama khalifah dalam melancarkan roda pemerintahan.

ØPembentukan Diwanul kitabah (semacam Sekretariat Negara) yang dipimpin oleh Raisul Kitabah (Sekretaris Negara). Raisul Kitabah ini dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh beberapa orang sekretaris, yaitu: Katibul Rasail (untuk urusan surat menyurat), Katibul Kharraj (untuk urusan pajak/keuangan), Katibul Jundi (untuk urusan tentara/kemiliteran), katibul Qudha (untuk urusan kehakiman), Katibul Syurthan (untuk urusan kepolisian).

ØPembentukan beberapa Departemen sebagai pembantu Wazir, antara lain ialah: Diwanul Kharij (Departemen Luar Negeri), Diwanul Ziman (Departemen Pengawasan Urusan Negara), Diwanul Jundi (Departemen Pertahanan dan Keamanan), Diwanul Akarah (Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja), Diwanul Rasail (Departemen Pos dan Telekomunikasi).

ØPengangkatan Amir dan Syeikh Qura

ØPembentukan Angkatan Bersenjata terdiri dari Angkatan darat dan laut.

ØPembentukan Baitul Mal (kas Negara) yang terdiri dari: perbendaharaan Negara (Diwanul Khazanah), urusan hasil bumi (Diwanul Azra’a), urusan perlengkapan tentara (Diwanul Khazainushilah).

ØPembentukan Mahkamah Agung, yang terdiri dari: Al-Qadha (bertugas mengurus perkara-perkara agama, hakimnya disebut Qadhi), Al-Hisbah (bertugas mengurus masalah-masalah umum baik pidana maupun perdata, hakimnya disebut Al-Mustashib), An-Nazhar fil Mazhalim (bertugas menyelesaikan perkara-perkara banding dari tingkat Al-Qadha dan Al-Hisbah dan hakimnya disebut Shahibul Mazhalim).

Disamping semua itu, banyak usaha perbaikan sistem pemerintahan yang dilakukan para khalifah Abbasiyah antara lain usaha yang dilakukan Khalifah Al-Mansur, seperti pengaturan dan penertiban pemerintahan, pembinaan keamanan dan stabilitas dalam negeri, pembinaan politik luar negeri untuk kemajuan dan perkembangan dinasti Abbasiyah. Selain itu pula, Harun Al-Rasyid pernah menjalin hubungan diplomasi politik dengan Raja Poppie di Byzantium untuk bekerjasama menghalau kekuatan politik militer tentara Umayah di Andalusia.

No comment »

Agama Budha

AGAMA BUDHA

( KONSEP THEOLOGI DAN SEJARAH AGAMA BUDHA)

A.Pendahuluan

Agama Budha adalah salah satu agama tertua didunia yang bisa berkembang pesat dann memiliki pengikut yang banyak, ajaran Budha tidak hanya bertitik tolak pada konsep ketuhanan dan hubungan dengan alam saja tetapi juga menghadapi berbagai keadaan kehidupan manusia dalam sehari-hari agar manusia bisa terbebas dari lingkaran Dukha yang selalu mengiringi kehidupan.

Secara garis besar ajaran tentang Budha menekankan bagaimana umat Budha memandang sang Budha Gautama sebagai pendiri agama Budha namun pada perkembangan selanjutnya ajaran tentang Budha ini berkaitan pula dengan masalah ketuhanan yang menjaid salah satu ciri ajaran tiap-tiap agama[1].

Berdasarkan papaeran diatas bahwa agama Budha pada awal pembentukannya buka merupakan suatu agama karena Budha tidak mengajarkan paham ketuhanan, melainkan berupa aliran atau kekuatan moral ( moral force )2 tetapi pada proses perkembangannya unsur-unsur yang ada dalam Budhabisa dijadikan sebuah agama, untuk pembahasan lebih lanjut sebagai berikut:

B. Sejarah Agama Budha

Budha adalah gelar yang diberikan kepada Sidharta Gautama yang berarti sesorang yang telah mencapai penerangan sempurna, pada awalnya kata Budha cenderung erat hubungannya dengan pohon yang ditempeli Siddharta Gautama saat bertapa untuk merenungkan atau bermedetasi memperoleh wahyu (ilham) tentang penderitaan ummat manusia, pohon tersebut adalah pohon Budi.

Siddartha Gautama lahir pada tahun 623 SM di India utara dan meninggal dunia pada usia 80 pada tahun 543 SM. Beliau lahir sebagai putra mahkota kerajaaan kapilavaptthu, pada waktu itu hidup beliau dipenuhi dengan kemewahan sebagai putra mahkota tunggal. Ketika berusia 29 tahun Siddharta Gautama melihat peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan hatinya, yaitu :

a)Orang berusia tua yang sedang menderita karena ketuaannya

b)Orang sakit yang sedang menderita karena penyakitnya

c)Orang meninggal dunia yang sedang ditandu oleh anggota keluarganya yang berduka

d)Seorang pertapa yang menyatakan bahwa ia sedang berusaha mencari cara untuk mengatasi penderitaan

Empat peristiwa tersebut sangat berkesan bagi diri Siddharta Gautama yang menggugah nuraninya terhadap penderitaan hidup manusia dan hal itu menjadikannya berpikir bagaimana cara manusia dapat membebaskan diri dari penderitaan.

1. Mukti Ali, 1988, Agama Dunia, (Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga),hlm. 102-103

2 Paul Edward (Ed), The Encylopaedia of philosophy, mecmillan Publishingco.,inc. and The free ptress, New york, 1072, hlm. 417

Karena hal itu kemudian Siddharta Gautamana melarikan diri dari istana untuk mencari kebenaran yang diharapkannya, beliau bersemadi dibawah pohon Budi dan mendapatkan wahyu yang sangat bertentangan dengan ajaran pendeta hinduisme yang disampaikan pada orang lain.

C. Pokok-pokok ajaran Budha

Setelah Siddharta Gautama menjalankan semedi maka ia memperoleh ajaran pokok yang disebut ajaran kebenaran agama Budha. Antara lain:

a)Tentang Dukha

Pemahaman tentang Dukha menurut agama budha berarti bahwa dalam kehidupannya manusia selalu diliputi penderitaan sebab manusia tetap berada dalam kebutuhan yang bersifat materi yang merupakan wadah bersemayamnya ruh.

Apabila tubuh halus berada didalam badan berarti tetap bersama hal-hal yang bersifat materi dan ruh juga menjadi terpengaruh oleh badan.dengan demikian jiwa mengalami penderitaan karena bertemu dengan badan. Persatuan antara ruhani dan jasmani mengharuskan adanya:

-Kelahiran

-Usia tua

-Sakit

-Kematian

Sebab jasmani sebagai sesuatu yang bersifat materi akan mengalami kehancuran. Sedangkan ruhani adalah sesuatu yang bersifat immateri dan sifatnya kekal dan memiliki alam tersendiri. Konsep tentang Dukkha merupakan kebenaran pertama menurut ajaran Budha.

b)Tentang Samudaya

Samudaya berarti sebab dan yang dimaksud disini adalah sebab penderitaan. Setiap muncul penderitaan pasti ada sebabnya.didalam agama budha diajarkan bahwa sebab utama penderitaan itu adalah keinginan yang kuat, hawa nafsu atau dikenal dengan istilah TANHA3

Kebenaran Tanha erat kaitannya dengan integrasi jasmani dan ruhani adanya keinginan materi sebagai kebutuhan jasmani. Adanya jasmani menyebabkan timbulnya banyak keinginan dan memerlukan kepuasan yang berwujud rasa kehausan kekuasaan dan kehausaan lainnya. Kehausan yang sangat tidak terpenuhi menyebabkan adanya pendaritaan yang sangat dalam.

c)Tentang niradha

Pengertian niradha berarti pemadaman4. Pemadaman tertuju pada keinginan manusia yang begitu tinggi terhadap kebutuhan jasmani maupun ruhani.Terutama sekali keinginan duniawi yang cenderung menumbuhkan penderitaan yang dalam bagi kehidupan manusia. Jika keinginan tidak terkendali tentulah manusia senantiasa ditimpa penderitaan yang berkepanjangan.

d)Tentang Marga

Pengertian marga berarti berarti jalan. Dalam hal ini sebagai wahana memeperoleh kelepasan, yakni bebasnya setiap pribadi dari penderitaan. Marga ditempuh setelah lahirnya Niradha pemadaman atau pengendalian keinginan atau hawa nafsu yang selalu menghantui manusia.

3.Prof.Dr.H.M.Bahri Ghazali,M. A .Agama Masyarakat(pengenalan studi agama-agama),(Yogyakarta:Pustaka Fahima,2005)hal.95

4.Prof.Dr.H.M Bahri Ghazali ,M. A.,Op.Cit. hal.96

Marga ditempuh agar manusia mencapai Nirwana sebagai hakekat kelepasan itu sendiri, ajaran ini merupakan ajaran pokok dari ajaran Budha yang disebut ajaran tentang Dharma yang berarti hukum

D. Keyakinan Agama Budha

Ajaran agama Budha bertitik tolak pada kenyataan yang dialami manusia dalam hidupnya. Ajarannya tidak dimulai dari prinsip yang transendente, yang mempersoalkan tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam semesta serta segala isinya, melainkan dimulai dengan menjelaskan tentang Dukha yang selalu menyertai hidup manusia dan cara membebaskan diri dari Dukha tersebut

Sekalipun pada awal mula munculnya agama Budha tidak pernah membicarakan tentang masalah ketuhanan sebagai inti dari ajaran agama Budha, pada akhirnya ajaran Budha difokuskan pada Zat Yang Maha Kuasa ( Adhi Budha )5.

Konsep Adhi Budha inilah yang merupakan doktrin Budha tentang yang ketuhanan yang dapat diartikan sebagai ajaran ketuhanan yang bersifat internatif karena terus menjelma dan akhirnya sebagai manusia, factor inilah menekankan ketuhanan Siddharta Gautama.

E.Tentang Masyarakat.

Ajaran budha tentang masyarakat merupakan reaksi dari ajaran kasta yang dianut oleh masyairakat.Siddharta Gautama melakukan dalam rangka menghilangkan perbedaan sosial akibat adanya kelas dalam masyarakat sesuai dengan sosialnya.

Siddharta menghendaki agar masyairakat hidup dengan tenang,dan tentram tanpa adanya penderitaan.Oleh karena itu setiap masyarakat harus hidup dalam kesederhanaan yang dilambangkan dengan pola hidup seorang rahib yang dikenal dengan istilah Biksu (bagi laki-laki)dan Biksuni (bagi perempuan).Ada tiga cirri hidup Biksu dan Biksuni : Kemiskinan,membujang dan Ahimsa (hidup tanpa kekerasan).Hal ini secara gamblang tertera dalam kitab Winaya pittaka.

Pola hidup sederhana ini dalam agama Budha sebagai upaya mematikan keinginan yang bersumber pada hawa nafsu dan cendrung mengakibatkan penderitaan bagi masyairakat.Sebab tujuan hidup itu semata-mata kehidupan jiwa yang suci menuju arah kelepasan (nirwana).Oleh karena itu tatanan kehidupan yang sedemikian rupa bukanlah hanya berlaku bagi seorang Biksu atau Biksuni,melainkan manusia pada umumnya,termasuk seorang upasaka (orang awam perempuan).

Dapat juga dikatakan bahwa hidup secara Biksu merupakan tahapan hidup yang paling tinggi dan harus dan harus dicapai oleh setiap penganut agama Buddha dalam hal ini seorang upasaka/upasika artinya upasaka dan upasika bukan berarti harus menjadi Biksu melainkan hidup secara sederhana harus diutamakan seperti yang dilambangkan oleh para Biksu/Biksuni6.

.

5.ed Djam’annuri, 2002, Agama Kita, (Yogyakarta : LESFI), hlm.66-67

6..Prof.Dr.H.M Bahri Ghazali ,M. A.,Op.Cit. hal 100-101

F. Penutup

Agama Budha pada awal kemunculannya merupakan sebuah bentuk pemberontakan dari ajaran agama Hindu yang berupa sekte agama Hindu dan kemudian berdiri sendiri menjadi sebuah agama, ajaran ini dipelopori oleh Siddharta Gautama, pada proses pertama kali agama Budha diperkenalkan pada masyarakat, agama Budha belum memiliki sistem ketuhanan, agama Budha hanya berupa ajaran moral saja, tapi pada proses perkembangannya muncul ajaran empat dharma dan adhi budha, adhi budha inilah yang kemudian ditetapkan sebagai sistem ketuhanan di agama Budha. Tetapi kemudian agama Budha mendapatkan tempat tersendiri dalam agama Hindu.

Agama Budha juga mengajarkan tentang masyarakat

Daftar Pustaka

1. Ali, Mukti. Agama-agama Dunia.Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga, 1988

2 Paul Edward (Ed), The Encylopaedia of philosophy, mecmillan Publishingco.,inc. and The free ptress, New york

3.Djam’an Nur (Editor), Agama Kita Perspektif Sejarah Agama-Agama, Suatu pengantar, Yogyakarta : LESFI, 2002.

4.Abdul munaf, Mudjahid. Sejarah Agama-Agama. Yogyakarta : IAIN Walisongo press,1994.

5. Ghazali, Bahri. Agama Masyarakat. Yogyakarta : Pustaka Fahmi,2005.


No comment »

filsafat islam

PENDEKATAN FILOSOFIS

Dalam Study Agama

Manusia adalah khalifah di bumi, manusia adalah makhluk ciptan Allah yang paling sempurna karena manusia diberikan Allah akal dan nafsu, apabila manusia hidup dengan dapat mengendalikan semua yang dilakukan dengan akal maka derajat manusia dapat melebihi malaikat disisi Allah, tetapi kalau dalam kehidupan manusia hanya menggunakan nafsunya maka kedudukan manusia disisi Allah akan lebih rendah dari pada hewan, hal ini juga berlaku pada konsep memahami Agama dan syariat-syariat yang ada di dalamnya, manusia tidak hanya memeluk islam, mempercayai islam diri segi doktrin keturunan saja yang diberikan oleh orang tua sejak kecil, tetapi manusia juga di wajibkan untuk mencari, mengkaji tentang agama, kewajiban manusia untuk menggunakan akal fikirannya tercantum pada surat Al Isra’ 36:

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya

Pada ayat tersebut telah disebutkan dengan jelas bahwa manusia diwajibkan menggunaka akal fikirannya untuk memahami semua yang ada di alam semesta, oleh karena itu dibutuhkan ilmu yang secara khusus mengeksploitasi akal fikiran secara maksimal, ilmu itu di kenal sebagai ilmu filsafat.

Secara harfiah, kata Filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwardaminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.[1] Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat megenai segala sesuatu yang ada.[2]

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik obyek formalnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah. Louis O. Kattsof mengatakan, bahwa kegiatan kefilsafahan ialah merenung. tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sistematik dan universal.[3] Mendalam artinya dilakukan sedemikian rupa hingga dicari sampai ke batas di mana akal tidak sanggup lagi. Radikal artinya sampai ke akar-akarnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Sistematik maksudnya adalah dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berpikir tertentu, dan universal maksudnya tidak dibatasi hanya pada suatu kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk seluruhnya.

Berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Pendekatan filosofis yang demikian itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Kita misalnya membaca buku yang berjudul Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu yang ditulis oleh Muhammad al-jurjawi. Dalam buku tersebut aj-jurjawi berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat dibalik ajaran-ajaran agama Islam. Demikian pula kita membaca sejarah kehidupan para Nabi terdahulu. Maksudnya bukan hanya menjadi tontonan atau sekedar mengenangnya, tetapi bersama dengan itu diperlukan kemampuan menangkap makna filosofis yang terkandung dibelakang peristiwa tersebut. Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya; dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung didalamnya. dengan cara demikian ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan. semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama, maka semakin meningkat pula sikap, penghayatan dan daya spiritualitas yang dimiliki seseorang.

Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengalaman agama yang bersifat formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik. Bentuk atau kulit itulah yang disebut aspek eksoterik dan agama-agama dan manifestasinya dalam dunia ini menjadi religious (dengan r kecil), sedangkan kebenaran yang bersifat absolut, universal dan metahistoris adalah Religion (dengan R besar). Dan pada titik Religion inilah titik persamaan yang sungguh-sungguh akan dicapai.

Tampaknya pandangan filsafat yang bercorak perenialis ini secara metodologis memberikan harapan segar terhadap dialog antar umat beragama. Sebab, melalui metode ini diharapkan tidak hanya sesama umat beragama menemukan transcendent unity of religion, melainkan dapat mendiskusikannya secara lebih mendalam. sehingga terbukalah kebenaran yang betul-betul benar. Dan tersingkirlah kesesatan yang betul-betul sesat, meskipun tetap dalam lingkup langit kerelatifan.

Pendekatan filosofis yang bercorak perenialis ini, walaupun secara teoritis memberikan harapan dan kesejukan, namun belum secara luas dipahami dan diterima kecuali oleh sekelompok kecil saja. Menurut Nasr, mengapa hanya segelintir orang, jawabannya bisa dicari dalam hakikat filsafat perennial itu sendiri. Bagi aliran ini, studi agama dan agama-agama adalah aktivitas keagamaan itu sendiri, dan mempunyai makna keagamaan. Semua studi agama hanya bermakna kalau ia memiliki makna keagamaan.[4]

Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya yang mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya. Namun demikian pendekatan seperti ini masih belum diterima secara merata terutama oleh kaum tradisionalis formalistis yang senderung memahami agama terbatas pada ketepatan melaksanakan aturan-aturan formalistis dari pengalaman agama.

Penulis: Muhammad Fuad Hasyim & team

UIN Sunan kali jaga yogyakarta

.


[1] J.S.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), cet. XII, hlm.280.

[2] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jilid I, (Jakarta: Bulan Bintang 1967), cet.II,hlm.15.

[3] Louis O Kattsof, Pengantar Filsafat, (terj.) Soejono Soemargono, dari judul asli Elements ofPhilosophy, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,1989), cet.IV,hlm.6.

[4] Komarudin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta:Paramadina, 1995). cet. I, hlm.12.

No comment »

Biogas


Infrastruktur Pembangkit Biogas - PART1


Copyright (c) 2005 by echo (unregister at gmail dot com). This material may be distributed only subject to the terms and conditions set forth in the Open Publication License, v1.0 1999 or later (the latest version is presently available at http://www.opencontent.org/openpub/).
Distribution of the work or derivative of the work in any standard (paper) book form is prohibited unless prior permission is obtained from the copyright holder.’

1. PENDAHULUAN

Ketika seseorang berbicara mengenai biogas, biasanya yang dimaksud adalah gas yang dihasilkan oleh proses biologis yang anaerob (tanpa bersentuhan dengan oksigen bebas) yang terdiri dari kombinasi methane (CH4), karbon dioksida (CO2), Air dalam bentuk uap (H20), dan beberapa gas lain seperti hidrogen sulfida (H2S), gas nitrogen (N2), gas hidrogen (H2) dan jenis gas lainnya dalam jumlah kecil.
Secara lebih singkat, biogas dapat diartikan sebagai “gas yang diproduksi oleh makhluk hidup”.

Dalam artikel seri pertama ini penulis tidak akan menceritakan mengenai konsep konsep yang melatarbelakangi biogas secara mendalam untuk menghindari terlihat seperti text-book :). Akan tetapi disini penulis akan menceritakan dan mendokumentasikan pengalaman penulis mengenai pembuatan dan instalasi pembangkit (digester) biogas di areal Manglayang Farm yang menggunakan bahan baku kotoran sapi seperti yang telah penulis lakukan.

Pembangkit yang kami buat adalah pembangkit biogas terbuat dari plastik polyethylene tubular dengan tipe pembangkit horizontal continous feed, biasa disebut juga tipe plug-flow, atau terkadang disebut juga sebagai model Vietnam karena dikembangkan terakhir disana.

Pertimbangan kami mengadopsi tipe ini adalah: a. Biaya relatif rendah b. Instalasi relatif mudah c. Bahan serta alat yang digunakan dapat ditemukan di sekitar kota Bandung.

Ada banyak tipe pembangkit biogas yang telah diciptakan dan dikembangkan. Tidak kurang dari Kolombia, Etiopia, Tanzania, Vietnam dan Kamboja telah mengembangkan pembangkit dengan harga murah, dengan tujuan utama mereduksi biaya produksi dengan menggunakan bahan bahan baku yang tersedia di lokal dan instalasi dan proses operasi yang sederhana. (Botero dan preston 1987; Solarte 1995; Chater 1986; Sarwatt et al 1995; Soeurn 1994; Khan 1996).
Model yang digunakan ini berbasis dari model “red mud PVC” yang dikembangkan oleh Taiwan seperti dijelaskan oleh Pound et al (1981) yang kemudian lebih disederhanakan lagi oleh Preston dan kawan kawan untuk pertama kali di Etiopia (Preston unpubl.), dan Kolombia (Botero dan Preston 1987) dan terakhir dikembangkan di Vietnam (Bui Xuan An et al 1994).

Tujuan utama kami melakukan instalasi pembangkit biogas di areal Manglayang Farm adalah bukan pencapaian produksi gas yang maksimal. Namun selain sebagai proses pembelajaran teknologi, juga untuk mendapatkan hasil keluaran dari pembangkit biogas yang merupakan pupuk organik dengan kualitas baik.

2. PERSIAPAN INFRASTRUKTUR PEMBANGKIT

Mari kita lihat konsep dasar alur proses produksi biogas.

Gambar 1: Diagram Alur Proses produksi biogas


Tahapan awal adalah mempersiapkan bahan baku organik yang dapat dicerna oleh bakteri dan mikroorganisme yang ada didalam pembangkit biogas. Dalam hal ini karena instalasi biogas dilakukan di areal peternakan sapi perah, bahan baku utama yang digunakan adalah kotoran sapi. Perlu diketahui, bahwa apabila yang menjadi tujuan utama dari instalasi biogas adalah pencapaian produksi gas yang optimal, kotoran sapi bukan bahan baku yang baik.

Tahap selanjutnya adalah yang kami sebut dengan fase input. Di dalam fase ini dilakukan pengolahan terhadap bahan baku agar dapat memenuhi persyaratan yang telah kami tentukan sebelumnya yaitu:

a. Filtrasi pertama.
Target dari penyaringan ini adalah bahan baku tidak mengandung serat yang terlalu kasar. Serat kasar disini berarti sampah sampah atau kotoran kandang selain kotoran ternak, seperti batang dan daun keras, sisa batang rumput dan kotoran lainnya yang sebagian besar adalah sisa sisa pakan ternak yang terlalu kasar. Hal ini dapat menimbulkan scum/buih dan residu di dalam pembangkit yang dapat mengurangi kinerja dari pembangkit itu sendiri.

b. Pencampuran dengan air dan pengadukan.
Dilakukan pencampuran kotoran sapi dan air. Air sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam pembangkit sebagai media transpor. Oleh karenanya tahapan ini cukup krusial mengingat campuran yang terlalu encer atau terlalu kental dapat mengganggu kinerja pembangkit dan menyulitkan dalam penanganan effluent (hasil keluaran pembangkit biogas). Sebagai panduan dasar, campuran yang baik berkisar antara 7% - 9% bahan padat. Disini juga dilakukan pengadukan agar campuran bahan organik – air dapat tercampur dengan homogen.

c. Filtrasi kedua
Target kami dengan melakukan penyaringan tahap kedua adalah untuk memisahkan kotoran sapi sebagai bahan baku organik pembangkit dengan bahan anorganik lain yang lolos di saringan tahap pertama terutama pasir dan batu batu kecil. Proses ini cukup penting mengingat kandungan bahan anorganik (pasir) di dalam pembangkit tidak dapat dicerna oleh bakteri dan dapat menyebabkan residu di dasar pembangkit.

d. Pemasukkan bahan organik
Kami membuat semacam katup/keran sederhana agar proses pemasukkan bahan organik kedalam pembangkit dapat dilakukan dengan semudah mungkin.

Memang cukup banyak parameter parameter yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pembangkit biogas ini (parameter dan syarat syarat lain seperti temperatur, rasio karbon – nitrogen, derajat keasaman dan lainnya mudah mudahan dapat kami singgung di tulisan selanjutnya). Nampaknya hal hal inilah yang menjadi kendala operasi dalam pemasyarakatan dan penggunaan pembangkit biogas secara masal di banyak negara.

Target kami dalam melakukan desain pembangkit dan infrastruktur ini adalah pengerjaan dan operasi dapat dilakukan oleh anak kandang atau pegawai kebun. Sehingga proses proses yang rumit ini harus dibuat sesederhana mungkin dan tidak menambah beban pekerjaan pegawai lebih banyak.

2.1 BAK MIXER

Di dalam bak ini kotoran ternak dicampur dengan air untuk kemudian dialirkan menuju pembangkit. Ukuran bak pencampur yang kami buat adalah 50×50x50cm sehingga volume yang dapat ditampung dengan kapasitas maksimum 80% bak adalah 100 liter. Desain bak permanen dengan bahan semen dan batu bata.

Gambar 2: Bak mixer

Bak mixer ini memiliki celah miring di kedua sisinya sebagai tumpuan filter/screen untuk memisahkan serat yang terlalu kasar. Screen ini dapat diangkat untuk dibersihkan.

Gambar 3: Bak mixer dengan screen terpasang


Screen terbuat dari kawat ayam dengan mesh +/- 1cm. Sebelumnya kami sudah mencoba dengan mesh yang lebih rapat, namun ternyata kotoran sapi tidak dapat lewat mesh tersebut. Dengan mesh 1cm inipun kami masih merasa terlalu rapat. Pada gambar terlihat bahwa serat yang kasar tersangkut pada screen.

Desain ini kami anggap masih belum cukup baik, karena untuk melakukan penyaringan, masih diperlukan effort yang besar untuk mengayak kotoran tersebut.

Gambar 4: Proses pengayakan kotoran, masih membutuhkan usaha yang cukup keras.


Di bagian belakang bak ini (arah kiri pada gambar 4) terdapat 1 buah lubang (¾”) untuk overflow apabila air terlalu penuh atau apabila bak terisi air hujan. Kemudian 1 lubang lagi (2”) untuk pencucian/drainase dan 1 lubang (PVC 4”) dengan sumbat untuk pengaliran bahan baku ke dalam pembangkit.

2.2 PARIT PEMBANGKIT

Pembangkit yang terbuat dari plastik polyethylene kami tempatkan semi-underground, setengah terkubur di dalam tanah. Untuk itu perlu dibuatkan semacam parit sebagai wadah agar pembangkit yang berbentuk tubular dapat disimpan dengan baik.
Parit ini berukuran panjang 6m, lebar atas 95cm, lebar bawah 75cm, tinggi di ujung input adalah 85cm, dan tinggi di ujung output 95cm. Untuk lebih jelas, perhatikan skema berikut.

Gambar 5: Skema parit pembangkit.
(1) Dimensi Parit. (2). Bentuk parit yang cekung pada dasar, membentuk mangkok.


Dimensi parit yang dibuat sangat tergantung pada dimensi pembangkit yang akan dibuat dan tentu ukuran plastik polyethylene (PE) yang tersedia di pasaran. Kami menggunakan plastik PE dengan lebar bentang 150cm, sehingga apabila membentuk tubular, diameternya sekitar 95cm. Kapasitas pembangkit yang kami buat kurang lebih 4000 liter. Parit ini memiliki inklinasi sekitar 2 – 3 derajat turun mengarah ke lubang output. Inklinasi ini dibuat untuk memaksimalkan volume pembangkit yang dapat diisi oleh bahan baku.

Setelah dilakukan penggalian parit, pembentukan dinding parit dapat dilakukan dengan campuran semen-tanah, semen-batu bata, atau seperti yang kami lakukan, menggunakan campuran air dan tanah saja. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya produksi. Tanah galian dicampur dengan air dan diaduk aduk dengan cara di injak injak hingga didapatkan tanah yang memiliki tekstur liat. Setelahnya dengan menggunakan sendok tembok dapat dibuat dinding, persis seperti menembok dengan semen. Cara ini sangat murah dan sederhana, namun memang dari sisi ketahanan tidak baik, karena pengaruh suhu, dan campuran yang tidak homogen dinding tanah akan mudah retak dan pecah. Dinding ini perlu kami buat karena lokasi pembangkit berada di tanah urugan, sebaiknya memang parit dibuat di tanah bukan urugan, sehingga pembuatan dinding dapat memanfaatkan kekerasan tanah yang ada.

Gambar 6: Parit pembangkit, bagian atas adalah bak mixer.

Gambar 7: Parit pembangkit, sudah dibuatkan tiang tiang untuk atap

Seperti terlihat pada gambar, bagian atas parit untuk sementara ditutupi dengan bekas karung agar tidak pecah sebelum kantung plastik pembangkit masuk ke dalamnya. Yang perlu diperhatikan juga adalah kerataan permukaan pinggir dan dasar parit. Pastikan tidak ada batu atau akar yang tersisa yang dapat melukai kantung plastik. Selain itu buatkan selokan kecil di sekeliling parit agar air tidak masuk ke dalam instalasi pembangkit.

PEMBANGKIT BIOGASDesain pembangkit biogas dari kantung plastik polyethylene ini adalah sebagai berikut:

Gambar 8: Skema pembangkit biogas dari kantung plastik polyethylene.


Bagian cukup penting adalah yang ditandai dengan nomor 1 dan 2, dimana nomor 1 adalah gas outlet. Skemanya adalah sebagai berikut:

Gambar 9: Skema gas outlet. Kami menggunakan PVC ¾”.

Kami menggunakan koneksi selang 5/8” dari gas outlet menuju botol jebakan uap air. Sayang kualitas selang yang digunakan kurang baik karena tidak anti tekuk. Kami merencanakan akan menggantinya apabila ada kesempatan. Selang di klem ke socket selang plastik kemudian disambungkan ke PVC SDD dan dengan menggunakan lem PVC disambung ke pipa PVC ¾”. Dari situ sebagai washer/cincin digunakan plastik yang dipotong dari jerigen bekas oli yang menjepit washer kedua yaitu karet ban dalam mobil. Di dalam kantung plastik, juga terdapat 2 buah washer dan SDL. Trik lain yang kami lakukan adalah memotong ujung bawah SDL, sehingga dasar permukaan SDL lebih tinggi terhadap cairan kotoran. Hal ini untuk menghindari terjadinya mampet pada saluran gas outlet.

Kami menyarankan untuk menggunakan karet ban dalam mobil untuk membuat washer, karena lebih tebal, selain itu karena dalam kegiatan ini banyak digunakan karet ban (motor), harap perhatikan kualitas karet ban tersebut, terkadang ada yang karetnya sudah keras sehingga mudah robek.

2.3.1 Mempersiapan Kantung Plastik Polyethylene

Kantung plastik polyethylene dengan lebar 150cm ini kami dapatkan di toko plastik di seputaran Gardu Jati, Bandung. Spesifikasinya adalah 150×0.15. Ini adalah spesifikasi plastik yang paling tebal yang bisa kami dapatkan. Tentu akan lebih ideal bila plastik yang digunakan adalah yang lebih tebal. Di pasaran tersedia lebar mulai 80cm, 100cm, 120cm dan 150cm. Menurut FAO akan lebih baik apabila menggunakan plastik yang memiliki anti ultra-violet (UV) seperti yang digunakan di rumah rumah kaca (biasanya berwarna kuning agak kehijau hijauan). Namun kami tidak dapat menemukan plastik UV yang masih dalam kondisi kantung tubular (sisinya tidak terpotong).
Harap diperhatikan juga penanganan terhadap plastik ini. Plastik PE adalah bahan yang cukup kuat, namun apabila terlipat dapat meninggalkan goresan dan ketika terkena panas matahari dan air hujan bisa retak dan sobek. Kita tentu tidak menginginkan hal ini terjadi. Oleh karenanya kami menyarankan untuk membeli dan menangani plastik secara hati hati dalam gulungan, jangan dilipat. Dalam percobaan instalasi ini kami menggunakan plastik dirangkap dua. Hal ini disebabkan masalah ketebalan dan kekuatan. Namun ternyata aplikasi rangkap dua ini juga dirasa memiliki kekurangan yang akan kami jelaskan di bawah.

Pertama tama gelarlah alas untuk melindungi plastik dari benda benda tajam seperti batu dan ranting pohon apabila anda akan membuat di tanah lapang seperti yang kami lakukan. Tentu akan lebih baik apabila pembuatan pembangkit dilakukan di alas yang licin seperti tegel keramik. Hati hati juga terhadap benda benda metal yang anda bawa seperti sabuk, jam tangan ataupun gantungan kunci. Benda benda tersebut dapat melukai plastik, jadi tanggalkanlah dahulu benda benda tersebut dari tubuh anda.

Gambar 10: Menggelar plastik PE

Gambar 11: Memotong lembar pertama

Gambar 12: Memasukkan lembar ke dua, perhatikan tali karet untuk mengikat ujung lembar ke dua.

Gambar 13: Memancing lembar kedua

Teknik yang kami gunakan untuk merangkapkan plastik adalah dengan memasukkan sedikit bagian lembar ke dua dan diikat ujungnya dengan tali, kemudian ujung tali yang satu lagi dilemparkan ke ujung lembar pertama. Selanjutnya tali tinggal ditarik dan plastik lembar ke dua masuk ke dalam lembar pertama dengan mudah.

Selanjutnya setelah ke dua lembar plastik disamakan ujung ujungnya, dan lembar kedua dipotong, kini saatnya memasang gas outlet.

Tentukan salah satu ujung yang akan menjadi ujung atas dan ukurlah sepanjang 1.5 meter dari ujung tersebut dan tandai dengan spidol. Tanda tersebut harus tepat berada di tengah tengah plastik, sehingga diharapkan gas outlet tepat berada di tengah atas permukaan pembangkit.

Lubang yang akan dibuat sebaiknya lebih besar sedikit dari diameter luar dari ulir SDL (socket drat luar) gas outlet. Apabila terlalu pas dikhawatirkan ujung plastik akan tertarik ketika anda mengencangkan socket.

Gambar 14: Memasang dan mengencangkan gas outlet.

Gambar 15: Gas outlet sudah terpasang ditempatnya.

Langkah selanjutnya adalah memasang saluran kotoran, baik masuk maupun keluar. Ini adalah tahap yang perlu dikerjakan dengan hati hati karena memerlukan kerapihan agar tidak menimbulkan kebocoran.

Kami menggunakan pipa yang berbeda untuk saluran masuk dan keluar, karena pertimbangannya adalah .Jketersediaan bahan yang ada di gudang kebun
Sebaiknya ukuran pipa masuk dan keluar adalah sama, kurang lebih memiliki diameter antara 10 – 15cm. Dapat menggunakan PVC dengan ukuran 4” atau 6” (namun harganya mahal) bisa juga menggunakan pipa keramik (sudah agak sulit mencarinya di kota Bandung) atau memakai ember plastik yang dipotong dasarnya dan disambung serta lain sebagainya, silahkan kreatif.
Panjang pipa kurang lebih 75 – 100cm. Masukkan setengah dari panjang pipa ke dalam 2 lembar plastik PE. Dan dengan hati hati lipat plastik menjadi satu dengan pipa (perhatikan gambar)

Gambar 16: Memasang pipa inlet

Gambar 17: Melipat bagian tepi plastik sehingga rapih dan mudah untuk di ikat

Gambar 18: Setelah dilipat, ikat dengan tali karet untuk memudahkan pengikatan selanjutnya.

Gambar 19: Ikatan dimulai 25cm sebelum tepi plastik (1) menuju ke arah luar pipa (2)

Pastikan ikatan tali karet benar benar kuat, kembali mengingatkan, banyak tali karet bekas yang karetnya rapuh dan mudah putus. Anda tidak ingin pembangkit anda bobol kan ? Ikatan dapat di rangkap untuk memperkuat simpul. Yang perlu diperhatikan juga adalah pengikatan tali karet harus saling meliputi (overlap), dan ujung plastik jangan sampai terlihat, tambahkan beberapa putaran lagi untuk memastikan sambungan kedap.

Dengan menggunakan dua lapis plastik PE kesulitannya adalah adanya udara yang terjebak diantara lembar plastik tersebut. Hal ini kami rasa dapat memperpendek umur plastik. Sayangnya hal ini baru kami sadari belakangan setelah biogas terpasang. Solusinya adalah dengan mengeluarkan udara terjebak sebanyak ketika memasangkan pipa inlet dan outlet.

Menggelembungkan Pembangkit

Setelah kedua pipa terpasang dengan baik, langkah selanjutnya adalah memindahkan pembangkit ke dalam ‘rumahnya’ yaitu parit yang telah dibuat sebelumnya. Untuk memindahkan plastik pembangkit kami menyarankan untuk menggelembungkan dahulu plastik pembangkit sehingga pembangkit dapat ‘duduk’ dengan rapih dan mengisi ruangan parit dengan baik. Selain itu fungsi penggelembungan adalah memastikan bahwa semua sambungan telah terpasang dengan baik.

Karena konsep dasar pembangkit biogas adalah anaerob atau tidak bersentuhan dengan udara bebas, terutama oksigen, maka metoda yang kami gunakan untuk penggelembungan awal adalah mengisi plastik pembangkit dengan gas buang kendaraan bermotor. Metoda lain adalah mengisi pembangkit dengan air. Namun karena ketersediaan air untuk penggelembungan terbatas, kami memilih menggunakan gas buang dari knalpot kendaraan operasional kami.
Sebelumnya pipa outlet kita tutup terlebih dahulu dengan plastik kresek dan diikat dengan tali karet. Demikian pula dengan gas outlet.

Gambar 20: Mempersiapkan kendaraan dan saluran pengisian.

Gambar 21: Mulai melakukan pengisian.

Gambar 22: Dibutuhkan sekitar 5 menit untuk memompa kantung plastik 5000 liter.

Gambar 23: Pembangkit siap untuk dipindahkan!.


Karena menggunakan gas buang dari kendaraan berbahan bakar solar, plastik pembangkit sedikit ternoda oleh bercak bercak hitam dari uap gas buang. Rasanya bila menggunakan gas buang kendaraan premium, hal ini bisa dihindari.

2.3.3 Memasang Pembangkit.

Pembangkit dapat segera dipasang. Setelah terpasang pada tempatnya, kami mengisi pembangkit dengan sedikit air untuk menghindari terlipatnya plastik dan membuatnya duduk lebih enak. Pipa inlet dipasangkan pada lubang outlet dari bak mixer dan dipasangkan sumbat, sedangkan gas outlet dan pipa outlet kami biarkan tetap tertutup. Setelah pemasangan ini, pengisian sudah dapat dilakukan.

Gambar 24: Memasang pembangkit


Proses pengerjaan yang kami lakukan membutuhkan waktu sekitar 8 hari kerja efektif. 2 hari untuk membuat bak mixer (2 HOK; hari orang kerja), 5 hari (15 HOK) untuk membuat parit pembangkit dan 1 hari (2 HOK) untuk pembuatan pembangkit. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 19 HOK sampai pembangkit terpasang.

Sekitar 20 hari kemudian, terlihat bahwa gas sudah mulai di produksi. Indikatornya plastik pengembang mulai menggelembung dan keras.

Gambar 25: Biogas mulai dihasilkan

PEMBUATAN ALAT PENUNJANG PEMBANGKIT BIOGASLangkah selanjutnya adalah pembuatan tanki penampung biogas, saluran biogas, termasuk jebakan uap air dan kompor biogas.

3.1 TANKI PENAMPUNG

Tanki penampung dalam desain yang kami buat minimal memiliki kapasitas 2500 liter. Namun ternyata karena keterbatasan ruang (kami menyimpan tanki penampung biogas diatas kandang sapi) kami hanya dapat membuat dengan kapasitas 1700 liter. Di masa yang akan datang kami merencanakan untuk menambah kapasitas penampungan dengan membuat satu buah lagi tanki penampung yang dihubungkan dengan sistem biogas.

Tanki penampung juga terbuat dari plastik polyurethane, yang membedakan adalah lapisan yang digunakan hanya 1 lapis. Kami rasa dengan 1 lapis saja sudah cukup untuk menahan tekanan biogas yang tidak seberapa besar.

Dimensi tanki yang kami buat adalah diameter 95cm dan panjang 250cm.
Pengerjaannya mirip dengan pembuatan pembangkit, perbedaanya hanya satu ujung saja yang diberi pipa. Untuk instalasi utama kami selalu menggunakan pipa PVC ¾”. Beberapa artikel menggunakan pipa dengan diameter ½”. Lagi lagi pertimbangannya adalah karena bahan yang tersedia di areal kebun adalah pipa ¾” yang digunakan untuk sistem irigasi kebun di musim kemarau.

Gambar 26: Membuat tanki penampung

Gambar 27: Ujung bawah tanki langsung di lipat dan di ikat dengan tali karet.


Akan lebih baik apabila ujung bawah tanki tidak diikat langsung, tapi diberi pipa PVC yang ditutup oleh dop PVC, baru kemudian lembaran plastik diikatkan pada pipa tersebut seperti langkah sebelumnya.

3.2 SALURAN BIOGAS

Untuk pipa utama kami menggunakan pipa PVC ¾”. Sambungan dapat dibuat permanen dengan lem PVC. Tapi kami memilih metoda semi permanen yaitu dengan mengikat sambungan pipa dengan tali karet. Hanya sambungan yang penting saja yang kami beri lem. Sambungan penting ini diantaranya adalah sambungan katup bola/keran (ball valve).

Gambar 28: Sambungan pipa saluran biogas.


Kami menggunakan banyak ball valve, dengan tujuan untuk memudahkan apabila ada perubahan skema saluran. Pada gambar diatas terlihat bahwa di ujung tanki juga terdapat ball valve, hal ini memungkinkan untuk tanki dipindah pindahkan tanpa mengganggu kinerja biogas secara keseluruhan.

Di sebelah kanan pada gambar diatas juga terlihat botol bekas air mineral 1.5 liter yang berfungsi sebagai water vapor (penjebak uap air) dan katup keamanan. Skema water vapor adalah sebagai berikut:

Gambar 29: Skema botol penjebak kondensasi sekaligus katup keamanan.


Botol penjebak ini sebaiknya diletakkan pada bagian terbawah dari saluran biogas, tepat setelah pembangkit. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan uap air hasil kondensasi turun dan masuk ke dalam botol. Air yang berlebihan dalam sistem dapat memampetkan saluran biogas, selain itu adanya kandungan air dalam biogas menurunkan tingkat panas api dan membuat api berwarna kemerah merahan.

Perhatikan muka air yang dibutuhkan. Kami menyarankan tinggi permukaan air dari batas bawah pipa antara 20 sampai 25 cm. Apabila terlalu rendah, gas akan mudah keluar dari air sebelum mencapai tekanan yang diinginkan. Apabila muka air terlalu tinggi, tekanan yang ada membesar dan hal ini dapat menghambat proses produksi biogas itu sendiri.

Kami sangat ingin mencoba membuat manometer untuk dapat mengontrol dan mengukur tekanan yang ada dalam sistem biogas, namun pada saat ini hal tersebut belum tercapai.

Lubang air pada botol penjebak selain berfungsi sebagai lubang pengisian juga sebagai pengatur tinggi muka air.

Gambar 30: Botol penjebak kondensasi dan katup keamanan.


3.3 KOMPOR BIOGAS

Penggunaan biogas yang paling mudah tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai bahan bakar dalam kegiatan masak memasak. Sebetulnya masih banyak fungsi lain yang ingin ) baruJkami cobakan juga, namun karena keterbatasan waktu (dan dana tentunyakompor biogas saja yang kami cobakan. Fungsi lainnya antara lain sebagai pencahayaan (ini yang ingin segera kami coba), bahan bakar untuk menjalankan mesin, pendingin, pemanas dan masih banyak bentuk pengembangan lain. Test pertama untuk mengetahui apakah biogas yang dihasilkan dapat terbakar atau tidak, kami lakukan dengan cara menyambungkan pipa biogas ke selang yang biasa digunakan pada kompor gas LPG, kemudian diujungnya kami sambungkan dengan selang tembaga dengan diameter dalam (Internal Diameter; ID) sekitar 0.5cm. Katup gas dibuka dan ujung pipa didekatkan dengan sumber api. Api pun menyala. Hurray!.

Ada banyak desain burner yang digunakan pada kompor biogas, target kami saat membuat kompor ini adalah harus sesederhana mungkin, dapat dibuat dari bahan bahan yang tersedia dan semurah mungkin, serta .. asal jalan dulu, sebagai tahap pembelajaran.

Percobaan pertama pembuatan kompor menggunakan bahan baku kaleng bekas permen jahe yang kami temukan di dalam mobil operasional. Permennya kami habiskan dulu, baru kalengnya di pakai.

Skema desain kompor pertama ini sebagai berikut:

Gambar 31: Skema burner biogas #1


Cara pembuatannya adalah kaleng permen dilubangi sesuai dengan ukuran diameter luar pipa tembaga kemudian ujung pipa tembaga dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat melihat skema diatas. (PERHATIAN: Desain kompor ini tidak bagus, lihat penjelasannya pada bagian kesimpulan)


Gambar 32: Kompor biogas untuk menggoreng ketela pohon.

Gambar 33: Api biru biogas.

4. KESIMPULAN

Kesimpulan sementara yang kami peroleh dari percobaan pembuatan dan instalasi pembangkit biogas dari kotoran sapi ini adalah kalori panas yang dihasilkan tidak cukup panas untuk bisa disebut fungsional. Hasil menggoreng ketela pohon kurang bagus karena minyak kurang panas. Singkong kurang kering dan tidak mengembang.
Kami rasa hal ini bisa disebabkan beberapa hal:

1. Tekanan gas kurang tinggi.
Percobaan penggorengan ini kami lakukan pada ketinggian muka air di botol penjebak kurang lebih 10cm (perhatikan gambar 26). Kami akan lakukan percobaan lagi pada ketinggian muka air 20 – 25cm.

2. Kandungan methane dalam biogas masih terlalu rendah.
Beberapa literatur menyebutkan, untuk biogas dapat terbakar, kandungan methane-nya minimal 50%. Karena biogas yang di hasilkan dapat terbakar, kami cukup confident untuk menyatakan bahwa kandungan methane sudah diatas 50%. Tapi karena gas terkadang tidak stabil (salah satu indikator kandungan karbon diosida tinggi) dan panas yang dihasilkan rendah, ada kemungkinan kandungan methane masih di bawah 60%.

3. Desain kompor dan burner yang kurang baik.
Kompor dan terutama burner yang kami gunakan disini masih bersifat sementara. Beberapa literatur menyebutkan juga bahwa campuran udara dan biogas cukup krusial untuk menghasilkan api yang baik. Campuran udara-biogas yang baik adalah sekitar 15:1 (15 udara dan 1 biogas). Selain itu desain kompor yang SS (sangat sederhana) ini tentu memiliki banyak heat-loss. Untuk kedepan, kami harapkan dengan desain burner dan kompor yang lebih baik hal ini dapat diatasi.

4. Faktor eksternal
Kondisi alam pegunungan yang cukup dingin (berkisar 15 – 20 derajat celcius) sedikit banyak berpengaruh terhadap suhu minyak. Selain itu hembusan angin di dalam dapur juga terasa cukup menganggu.

Kesimpulan lain yang dapat diambil dari percobaan implementasi teknologi biogas ini adalah adanya resistensi dari pengguna biogas (yang adalah ibu rumah tangga peternak, yang terbiasa menggunakan tungku kayu bakar) untuk menggunakan kompor bioga. Beberapa alasan yang dapat kami tangkap adalah faktor psikologis akan bahaya kebakaran atau meledak dan juga kecenderungan untuk memang resisten terhadap teknologi teknologi baru yang dipandang cukup rumit.
Namun setelah dilakukan pengamatan beberapa hari, kecenderungan ini perlahan lahan mulai hilang, ditandai dengan adanya laporan yang menyatakan bahwa kompor biogas hasilnya cukup bagus apabila dipakai menggoreng telur.

Akan tetapi kami cukup yakin bahwa lambat laun teknologi ini dapat diterima oleh pengguna yang ditandai bahwa mereka cukup senang dengan adanya kompor yang tidak menimbulkan polusi dan tidak merusak alat alat masak.

Hal lainnya yang terungkap adalah perawatan dan operasi sistem biogas ini memang cukup rumit, hal inilah tampaknya yang mendasari bahwa banyak instalasi biogas di negara di dunia yang kurang berhasil dalam jangka panjang.

Tujuan utama dalam implementasi biogas biasanya adalah sebagai energi pengganti yang dapat mengurangi biaya yang diperlukan untuk memasak. Nampaknya hal ini harus kita tinjau ulang secara lebih seksama. Mengapa ?. Karena faktanya, penggunaan tungku kayu bakar berbahan tanah liat membutuhkan biaya yang lebih murah dari biogas, lebih mudah dibuat, dioperasikan dan di rawat. Bila dibandingkan dengan perapian kayu bakar biasa, tungku tanah liat menggunakan bahan bakar lebih irit dan tidak menimbulkan polusi asap di dalam ruangan (karena memiliki cerobong keluar).
Sistem biogas yang profitable seharusnya di desain secara lebih terintegrasi, digunakan untuk menjalankan mesin statis yang dapat memutar generator penghasil listrik, sekaligus sebagai pabrik penghasil pupuk dan penyubur bagi kolam ikan, taman atau lahan pertanian.

Sebuah operasi biogas yang sukses, sukses dalam arti dapat menghasilkan atau menabung uang lebih banyak daripada biaya yang dikeluarkan adalah sebuah operasi bisnis. Oleh karenanya, sebuah pembangkit biogas harus dipandang sebagai bagian sebuah sistem. Sistem yang terdiri dari banyak hal, tanki penyimpan gas, kolam ikan atau tanaman air, lahan pertanian, ternak, produksi pupuk dan gas, dan sebagai bisnis serta keahlian teknis.

Dibawah ini pernyataan yang diadaptasi dari buku “Biogas and Waste Recycling, The Philippine Experience” karya Felix Maramba, seorang pengembang sistem biogas yang sukses, terkenal dan menguntungkan secara finansial.

“Pengembangan sistem biogas akan meningkatkan kehidupan sosial dan ekonomi di daerah pedesaan. Caranya adalah dengan mengendalikan polusi yang terjadi pada udara dan air, sehingga menjamin hidup yang lebih sehat. Biogas dapat meningkatkan standar hidup yang berarti juga akan meningkatkan laju perekonomian. Dengan memanfaatkan limbah dan bahan yang tersedia di daerah setempat sebagai penunjang kebutuhan pertanian, dan dengan membuat lahan semakin produktif melalui sistem daur ulang akan menimbulkan sebuah pola kehidupan pedesaan yang baik yang menunjang kemandirian.”

Referensi:

1. Biodigester Installation Manual, Lylian rodriguez and T R Preston. FAO.
2. Livestock House and Biogas System. FAO.
3. How To Install Polyethylene Biogas Plant. Fransisco X. Aguilar. The Royal Agricultural College Cirencester.
4. Biogas/Biofertilizer Business Handbook Manual. Michael Arnott. Peace Corps.
5. The Biogas Handbook. David House. Peace Press.
6. Chinesse Biogas Manual. English version by Ariane van Buren. Intermediate Technology Publication, Ltd.

Comments (1,128) »

Bioetanol


Cara Membuat Bioetanol dari Singkong

Anda tak percaya ? Sekarang mulailah untuk mempersiapkan tikar karena kita akan bertualang sejenak ke kebun belakang rumah. Begini ceritanya….

Negara-negara maju telah mengembangkan energi alternatif yang dapat menggantikan peranan minyak bumi dan sumber bahan alam (terutama galian) yang berfungsi sebagai bahan bakar. Cadangan minyak bumi yang semakin menipis karena peningkatan kebutuhan serta jumlah penduduk dunia yang bombastis (China saja jumlah penduduknya sudah 1 milyar…) adalah faktor pendorong giatnya ilmuwan dalam mencari sumber energi baru yang dapat diperbaharui, murah dan aman bagi lingkungan (terutama yang berasal dari nabati).

Beberapa bahan bakar alternatif yang popular adalah biodiesel, biogas, biofuel, hydrogen dan energi nuklir. Biofuel adalah salah satu turunan dari biomassa. Biofuel merupakan bahan bakar yang berasal dari tumbuhan atau hewan, biasanya dari pertanian, sisa padatan juga hasil hutan.

Coba kita lihat biofuel, khususnya etanol. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, tanaman-tanaman seperti Jagung, Tebu dan Singkong dapat dikonversi menjadi bahan bakar.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu menemukan cara pembuatan etanol dari singkong yang diterapkan oleh Bapak Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari :

1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.

2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku

3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.

4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati

5.Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

6 Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.

7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol

8.Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.

9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.

10 Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100″C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek

(Sumber : Trubus, Judul : Mengebor Bensin di Kebun Singkong: 12-1-2007 )

No comment »

Agama dan kesehatan mental

AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL

BAB I

PENDAHULUAN

Pada zaman dahulu ketika tekhnologi belum dikenal oleh masyarakat umum secara luas setiap penyakit yang diderita oleh manusia sering sekali dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau spiritual dan alam gaib, setiap penyakit dihubung-hubungkan dengan gangguan makhluk halus, oleh karena itu orang yang sakit lebih memilih berobat kedukun atau orang pintar yang dianggap bisa berkomunikasi langsung dengan makhluk halus ketimbang berobat ke tabib yang mengerti tentang jenis penyakit berdasarkan ilmu perobatan.

Pergeseran zaman dan kemajuan tekhnologi tidak dapat terelakkan lagi, saat ini penyakit sudah dapat dilihat dan diobati dengan obat-obatan yang bagus dengan menggunakan metode pengolahan canggih, perkembangan ilmu pengetahuan dapat lebih menspesifikkan penyakit-penyakit tersebut. Ada penyakit yang bersumber dari virus, bakteri atau baksil-baksil sehingga untuk mengobatinya membutuhkan obat-obatan medis, tetapi ada juga penyakit yang bersumber dari jiwa atau hati suatu individu, jadi secara fisik individu tersebut tidak terkena virus, bakteri atau baksil-baksil, namun pada kenyataannya individu tersebut sakit.

Penyakit tersebutlah yang dinamakan dengan penyakit hati atau penyakit mental, untuk mengatasi penyakit tersebut diperlukan menejemen hati atau mental yang baik sehingga dapat membentuk kesehatan mental yang berimbas pada kesehatan secara fisik individu tersebut.

Pada makalah ini kami akan berusaha menyajikan tentang Agama dan Kesehatan Mental sebaik mungkin yang kami dapat dari literatur-literatur yang telah kami dapatkan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kesehatan Mental

Istilah Kesehatan Mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata mental memilki persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin yang berarti Psikis atau Jiwa, jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental.[1]

Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) (Mujib dan Mudzakir, 2001, 2003).

Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (Penyebab terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. (Noto Soedirdjo, 1980) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untukbertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan seseorang terhadap stressor berbeda-beda karenafaktor genetic, proses belajar dan budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima oleh seseorang dengan orang lain juga berbeda.

  1. Ciri-ciri Kesehatan Mental

Ciri-ciri kesehatan mental dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu:

    1. Memiliki sikap batin (Attidude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
    2. Aktualisasi diri
    3. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis ada
    4. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri)
    5. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
    6. Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).

Pada abad 17 kondisi suatu pasien yang sakit hanya diidentifikasi dengan medis, namun pada perkembangannya pada abad 19 para ahli kedokteran menyadari bahwa adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia. Hubungan timbal balik ini menyebabkan manusia menderita gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan mental (Somapsikotis) dan sebaliknya gangguan mental dapat menyebabkan penyakit fisik (Psikomatik).[2]

Memasuki abad 19 konsep kesehatan mental mulai berkembang dengan pesatnya namun apabila ditinjau lebih mendalam teori-teori yang berkembang tentang kesehatan mental masih bersifat sekuler, pusat perhatian dan kajian dari kesehatan mental tersebut adalah kehidupan di dunia, pribadi yang sehat dalam menghadapi masalah dan menjalani kehidupan hanya berorientasi pada konsep sekarang ini dan disini, tanpa memikirkan adanya hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Hal ini jauh berbeda dengan konsep kesehatan berlandaskan agama yang memiliki konsep jangka panjang dan tidak hanya berorientasi pada masa kini sekarang serta disini, agama dapat memberi dampak yang cukup berarti dalam kehidupan manusia, termasuk terhadap kesehatan.[3]

Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.

Solusi terbaik untuk dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan mental adalah dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental seseorang dapat ditandai dengan kemampuan orang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk menggapai ridho Allah SWT, serta dengan mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual.

Hal ini dapat ditarik kesimpulan karena pada dasarnya hidup adalah proses penyesuaian diri terhadap seluruh aspek kehidupan, orang yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan gagal dalam menjalani kehidupannya.[4] Manusia diciptakan untuk hidup bersama, bermasyarakat, saling membutuhkan satu sama lain dan selalu berinteraksi, hal ini sesuai dengan konsep sosiologi modern yaitu manusia sebagai makhluk Zoon Politicon.

  1. Gangguan Mental

Gangguan mental dapat dikatakan sebagai perilaku abnormal atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dimasyarakat, perilaku tersebut baik yang berupa pikiran, perasaan maupun tindakan. Stress, depresi dan alkoholik tergolong sebagai gangguan mental karena adanya penyimpangan, hal ini dapat disimpulkan bahwa gangguan mental memiliki titik kunci yaitu menurunnya fungsi mental dan berpengaruhnya pada ketidak wajaran dalam berperilaku ini sesuai dengan Al-Quran (QS. Al-Baqoroh2:10)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌفَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوايَكْذِبُونَ

Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit [23] lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

[23]yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.

Adapun gangguan mental yang dijelaskan oleh (A. Scott, 1961) meliputi beberapa hal :

1.Salah dalam penyesuaian sosial, orang yang mengalami gangguan mental perilakunya bertentangan dengan kelompok dimana dia ada.

2.Ketidak bahagiaan secara subyektif

3.Kegagalan beradaptasi dengan lingkungan

4.Sebagian penderita gangguan mental menerima pengobatan psikiatris dirumah sakit, namun ada sebagian yang tidak mendapat pengobatan tersebut.[5]

Seseorang yang gagal dalam beradaptasi secara positif dengan lingkungannya dikatakan mengalami gangguan mental. Proses adaptif ini berbeda dengan penyesuaian sosial, karena adaptif lebih aktif dan didasarkan atas kemampuanpribadi sekaligus melihat konteks sosialnya. Atas dasar pengertian ini tentu tidak mudah untuk mengukur ada tidaknya gangguan mental pada seseorang, karena selain harus mengetahui potensi individunya juga harus melihat konteks sosialnya.[6]

  1. Agama dan Kesehatan Mental

Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Namun untuk menutupi atau meniadakan sama sekali dorongan dan rasa keagamaan kelihatannya sulit dilakukan, hal ini Karena manusia ternyata memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Zat yang gaib, ketundukan ini merupakan bagian dari faktor intern manusia dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (Self) ataupun hati nurani (conscience of man).[7]

Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT ialah manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan, seperti yang ada dalam (QS Ar Ruum 30:30)

Artinya: 30.Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],

[1168]fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

E. Agama sebagai Terapi Kesehatan Mental

Agama sebagai terapi kesehatan mental dalam islam sudah ditunjukkan secara jelas dalam ayat-ayat Al-Quran, di antaranya yang membahas tentang ketenangan dan kebahagiaan adalah (QS An Nahl 16:97)

ô`tB@ÏJtã$[sÎ=»|¹`ÏiB@2s÷rr&4Ós\Ré&uqèdurÖ`ÏB÷sãB¼çm¨ZtÍósãZn=sùZo4quymZpt6ÍhsÛ(óOßg¨YtÌôfuZs9urNèdtô_r&Ç`|¡ômr'Î/$tB(#qçR$2tbqè=yJ÷ètÇÒÐÈ

Artinya : 97.Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.

[839]Ditekankan dalam ayat Ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

(QS Ar Ra’ad 13:28)

Artinya 28.(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

BAB III

PENUTUP

Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.

Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT ialah manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan

Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan yang maha tinggi sehingga akan dapat memunculkan perasaan positif pada kesehatan mental seseorang.

Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.

DAFTAR PUSTAKA

Casmini dkk, 2006, Kesehatan Mental, UIN SUKA

Jalaluddin, 2007, Psikologi Agama, Raja Grafindo Persada

Wanita muslimah, diakses tanggal 12 April 2008, Agama Kunci Kesehatan, www.archiv.com,

Moeljono Soedirjo dan Latipun, 2005, Kesehatan Mental Konsep dan Terapi, UMM Press

Kartini Kartono, 2000, Hygiene Mental, Bandar Maju

Dadang Hawari, 1996, Al-Quran i\Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Dana Bakti Prima Yasa

Zakiah Daradjat, 1995, Kesehatan Mental, Gunung Agung


[1]Casmini dkk, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: UIN SUKA, 2006), hlm 18-19

[2]Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm 152

[3]Ibid, hlm 53

[4]Wanita muslimah,Agama Kunci Kesehatan, www.archiv.com, diakses tanggal 12 April2008

[5]Moeljono Soedirjo dan Latipun, Kesehatan Mental Konsep dan Terapi, (Malang : UMM Press, 2005), hlm 35-37

[6]Ibid, hlm 38

[7]Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm 159

No comment »

Puasa

MATERI PRESENTASI

di SMA TAMAN SISWA

Rabu 27 Agustus 2008

Oleh : Muhammad Fuad Hasyim

Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kali Jaga

Ramadhan, Ramadan atau Romadhon (bahasa Arab:رمضان) adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam). Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, shalat tarawih, peringatan turunnya Al Qur’an, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Al Qur’an dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri. Kekhususan bulan Ramadhan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Al Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya:

bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…

ØEtimologi

Ramadhan berasal dari akar kata ر م ﺿ, yang berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh segatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadhan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Wallahu `alam.

Dari akar kata tersebut kata Ramadhan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadhan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Namun kata ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan ramadhan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang yang sakit mata mau buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadhan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.[1]

ØPeristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadhan

1.Perang Badar: 17 Ramadhan 2 AH - Adalah pertempuran pertama yang dilakukan kaum Muslim setelah mereka bermigrasi (hijrah) ke Madinah melawan kaum Quraisy dari Mekkah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang berkekuatan 313 orang melawan sekitar 1000 orang dari Mekkah.

2.Pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib: 21 Ramadhan 40 H: Khulafaur Rasyidin keempat dan terakhir, dibunuh oleh seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Beliau meninggal pada tanggal 23 Ramadhan tahun itu juga. Kematiannya menandai berakhirnya sistem kekhalifahan Islam, dan kemudian dimulai dengan sistem dinasti.

ØJenis-jenis Puasa

·Puasa yang hukumnya wajib

·Puasa Ramadan

·Puasa karena nazar

·Puasa kifarat atau denda

·Puasa yang hukumnya sunah

·Puasa 6 hari di bulan Syawal

·Puasa Arafah

·Puasa Senin-Kamis

·Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak)

·Puasa Asyura (pada bulan muharam)

ØSyarat wajib puasa :

1.Beragama Islam

2.Berakal sehat

3.Baligh (sudah cukup umur)

4.Mampu melaksanakannya

5.Orang yang sedang berada di tempat (tidak sedang safar)

ØSyarat sah puasa :

1.Islam (tidak murtad)

2.Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)

3.Suci dari haid dan nifas

4.Mengetahui waktu diterimanya puasa

ØRukun puasa :

1.Niat

2.Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari


ØKandungan Pokok Al-Qur’an yang tercantum dalam fatihah

1.Ajaran Ketauhidan pada ayat 1,2,3

2.Ajaran tentang Al-Wa’du (janji) & Al-Wa’id (ancaman) ayat 4

3.Ajaran tentang Ibadah ayat 5

4.Ajaran tentang mencari jalan kebahagiaan ayat 6

5.Ajaran tentang kisah dan sejarah ayat 7 : karena ulama’ sepakat bahwa arti dariadalah orang yahudi serta kata

Merujuk pada orang nasrani.

ØJanji Allah SWT pada surat At-Tiin dan Asy-Syams

At-Tiin : Demi buah tiin dan buah zaitun (1) dan demi bukit tursina (2) dan demi kota makkah ini yang aman (3) sesungguhnya kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (4).

Asy-Syams : Demi matahari dan cahayanya dipagi hari (1) dan bulan apabila mengiringinya (2) dan siang apabila menampakkannya (3) dan apabila malam menutupinya (4) dan langit serta pembinaannya (5) dan bumi serta penghamparannya (6) dan jiwa serta penyempurnaannya (7) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan (8) sesungguhnya beruntunglah orang yang yang mensucikan jiwanya (9) dan sesungguhnya merugilah bagi orang yang mengotorinya (10).

————-oooo000oooo————

No comment »